Langsung ke konten utama

Bahasa Kami




Tak banyak sejarah rangkaian abjad yang telah kami produksi. Tak banyak pula frekuensi waktu yang telah kami habiskan. Kami hanya dua insan mahluk yang sempurna buah ciptaan Yang Maha Sempurna. Namun, kami selalu berusaha memberikan daya, upaya untuk hadir dengan sedikit bahasa yang kami gunakan. Kami akan saling mengunjungi disaat salah satu dari kami membutuhkan, ya hanya untuk sekedar didengar dengan seksama, ditatap dengan baik, dan tak jarang rahang salah satu dari kami pun mengeras hanya untuk memberikan arti dari sebuah penegasan. Kami tak berusaha mewarnainya dengan keabu-abuan.
Kami menyukai hitam dan putih. Sedangkan warna lain adalah buah dan bonus dari yang kami torehkan. Kami mempunyai dunia yang berbeda. Namun, ada satu waktu kita sepakat untuk saling berlari dan mencari. Namun, kami minim ekspresi serta gestur. Mungkin sekeliling kami akan berfikir bahwa ada sesuatu yang janggal diantara kami, karena tidak selayaknya dua insan bertemu yang sering diwarnai canda, suara yang riang. Kami menyukai hening dan sunyi untuk menyeimbangkan keadaan. 
Hanya kami dan hening yang bisa menyelami. Hening ini membuahkan keindahan dan kedamaian. Ya, kami hanya butuh didampingi, ditemani, dan didengarkan. Selalu ada hal yang baru usai kami bertemu. Keberadaan itu tidak selalu harus diukur dengan frekuensi waktu dan kuantitas rangkaian abjad yang telah kami produksi. 
Sejarah kemarinlah yang membuat kami rindu untuk menciptakan sejarah-sejarah kemarin yang membuahkan kehangatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencicipi pesona Bumi Nusantara [Edisi Bromo dan Waterfall Madakaripura 2]

Ketika sebagian besar orang bilang bahwa saat matahari terbit adalah waktu yang pas untuk memulai perjalanan. Ya..kami sependapat dengan ini. Masing-masing dari kami ketika akan mulai merencanakan, ketika kami akan bersiap tidur di malam hari, ketika kami bergegas bangun dari tempat tidur, dan ketika kami berpamitan melangkahkan kaki untuk sejenak pergi meninggalkan semua kebiasaan yang biasa kami lakukan. Semangat langkah kaki dan dada ini tidak biasa, kami meyakini akan ada sesuatu yang besar yang akan kita raih...ya kami punya mimpi. Dan mimpi ini yang akan kita wujudkan.  5 sabahat tersenyum siap menjemput mimpi Terminal, stasiun, bandara, adalah sebagian tempat yang serupa untuk singgah, mengukir cerita dan dimana ada yang datang dan ada yang pergi. Stasiun di kota Bandung ini adalah saksi langkah awal perjalanan kami. Kami membuat janji untuk bertemu disini dan mengawali mimpi kami. Satu per satu dari kami pun tiba dengan langkah yang walaupun sedikit gontai karena p...

Berburu senja di Negeri Laskar Pelangi

Tepat satu minggu kemarin dapat landscape ini. Gambar ini menjadi moment berharga saya bersama kedua teman saya kala itu. Cuaca yang sulit ditebak, sedari pagi hingga siang hujan menghiasi kota Belitung. Hujan deras sempurna melumpuhkan sejenak rencana kami menuju destinasi yang sudah kami rancang di hari kedua. Harapan kami untuk bisa menikmati sunrise di kota Laskar Pelangi harus tertunda. Rona langit kala itu sedikit mengacaukan semangat kami. Baru di siang hari matahari mulai menampakkan teriknya. Langit biru, awan putih, kami bersorak kecil, senyum kecil tersungging dari bibir kami. Harapan dan semangat kami melanjutkan destinasi yang sempat tertunda tadi mulai tumbuh. Kami banyak menghabiskan waktu siang kami bermain di Pantai Tanjung Lesung. Kami urungkan niat kami untuk menyebrang ke Pulau Lengkuas dikarenakan personil kami hanya tiga orang dan juga waktu yang tidak memungkinkan.  Setelah kami puas bermain-main dibawah terik matahari di Pantai Tanjung Lesung kami bergegas...

Suara Hujan...dengerin yuk

Seraya hujan pun tak kalah ingin menyapa semesta pagi ini dengan tanpa permisi. Menyapa ia yang baru terbangun dari istirahat panjangnya. Menyapa ia yang sedang berjuang dalam hiruk pikuk riuhnya pasar pagi. Hujan bukan hal yang kuharapkan. Namun, ini menambah kesenanganku pada pagi ini. Perasaanku menjadi lebih tenang dan menikmati semuanya. Paduan yang pas. Merasakan suara rintikan hujan bersembunyi di balik selimut tebal, novelku dan musik yang kusetel. Namun, kadang dengan ia hadir otak ku bekerja lebih keras. Ia membuahkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih kritis. Kata orang hujan itu indah. Ada pula yang mengatakan hujan itu romantis. Ada yang percaya bahwa ternyata di dalam hujan itu terdapat lagu yang mengalun dengan damain nan syahdu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan di masa lalu. Mari kita diam dan rasakan aroma itu. Tutup mata kita, fokuskan telinga kita untuk mendengar pesannya. Ia hadir ...