Langsung ke konten utama

Tentang rindu, masa lalu dan dalam asuhanmu.

Malam hari ini langit cukup bersahabat dengan begitu banyak bintang yang berpendar gemerlap memberikan cahayanya untuk menyinari rumah kita yang luas yakni Bumi. Ketika akhirnya kurebahkan badan, bergelung dalam balutan selimut dibawah mangkuk langit berbintang. Aku merasa bagaikan bayi di luar angkasa. Ketika kepala ini mendarat di atas bantal, aku selalu menyukai detik-detik ini sebelum aku terlelap. Karena, dalam keheningan sejenak aku bebas merajut mimpi-mimpi dan khayalanku setinggi langit. 

Di keheningan malam aku terjaga.
Pepatah mengatakan bahwa masa lalu adalah sejarah, hari ini adalah anugerah, dan hari esok adalah harapan. Kali ini aku sedang merindukan masa lalu. Masa kecilku. Frase-frase aku tumbuh besar menjadi perempuan dewasa seperti sekarang. Sudah berapa hari yang sudah aku lalui, sudah berapa jam aku lewati pula. Dan siapa saja yang sudah menjadikanku ada, mengiringi aku tumbuh kembangku.

Kini ia begitu renta dan kuat di waktu yang bersamaan.
Yang bisa aku ceritakan kini mungkin adalah bahwa aku dibesarkan dalam asuhan kakek dan nenekku. Cerita berawal ketika sepasang sejoli yang dipertemukan Tuhan yakni orang tuaku menikah dan mencoba mengadu nasib di kota ini. Sebagai anugerah buah cinta suci yang dinanti oleh sepasang suami istri dan keluarga aku pun terlahir pada tanggal 09 Oktober 1986 hari Kamis di sebuah Rumah Sakit di kota ini. Tangisanku dibalas rona bahagia dan suasana haru.

Orangtuaku tak hentinya memberikan dekapan, pelukan, sentuhan, pujian, dan doa dalam hari-harinya. Seiring waktu berjalan orangtua harus disibukkan dengan pekerjaan kala  itu. Sehingga akupun harus hidup terpisah daru kedua orangtuaku. Aku diasuh dan dibesarkan oleh kakek dan nenekku di sebuah kota kecil yang cukup tenang dan damai bernama Purworejo di provinsi Jawa Tengah.

Ini adalah tampilan kotaku di kala malam.
Aku tumbuh dan berkembang dalam asuhan orang tua yang sangat sederhana.  Di desaku Dukuhrejo mayoritas penduduknya mengolah sawah dan ladang. Kakekku dan nenekku seorang petani. Dan ada sebidang kebun atau ladang yang tidak begitu luas ditanami kacang, genjer, singkong, dll. Selain itu kakekku pun memelihara dan menggembala bebek. Telur bebek ini kadang menjadi sumber penghasilan dikala musim panen belum tiba.

Inilah desa bapakku berasal.
Bicara tentang sekolah, jarak tempuh sekolah SD ku sangat dekat hanya berjalan kaki 5 menit dari rumah. Setiap pagi aku berangkat bersama teman-teman yang lewat disamping rumahku. Kami bercanda dan tertawa bersama. Di sekolah aku tergolong anak yang biasa saja. Nilai ku aman, tidak pernah tercatat di panggil ke ruang guru atau yang lainnya. Ketika istirahat tiba kami bergegas menuju kantin sekolah. Ibu-ibu penjaja penganan khas jajanan SD pun diserbu seketika. Di zaman ku aku hanya dibekali seratus rupiah sampai lima ratus. Ini sudah sangat bisa membeli apapun yang aku inginkan dan cukup membuat perutku kenyang. Es potong, aromanis, chiki-chiki dengan berhadiah mainan. Sangat senang rasanya. Sambil menyantap jajanan biasanya kami selingi dengan main karet, petak umpet, atau bola beklen.
Kadang beberapa kali akupun harus pulang kerumah dikarenakan ada guru yang ingin membeli telur bebek kakek. Dengan sigap aku berlari dan kembali ke sekolah dengan menenteng besek dalam kantong plastik untuk diserahkan kepada guruku.

Ketika bel kedua berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai. Guru menutup pertemuan kali ini dan ketua kelas siap memberi salam dan memberi komando untuk doa bersama.
Seketika pintu gerbang sekolah penuh sesak teman-temanku berlarian dengan tas di punggungnya. Aku pun tak kalah gembiranya menanti pulang. Usai tiba dirumah aku segera berganti baju, menyimpan tas dan sepatu. Nenek ku sudah siap memberi komando agar makan siang terlebih dahulu sebelum kembali bermain. Aku biasa menghabiskan makan siangku di dapur duduk di kursi kayu beralaskan tanah. Iya tanah..dulu rumahku masih beralaskan tanah yang telanjang begitu saja. Ada hal yang masih membuat aku teringat sampai sekarang yakni, makan nasi berlaukkan gula merah yang digigit sedikit demi sedikit, garam yang ditumbuk halus, atau kerupuk. Nasi yang masih hangat menjadi kombinasi yang pas dan lezat. Disini bukan berarti dulu aku kekurangan .. Tapi hal itu sudah lumrah disana. Kalau dibandingkan dgn sekarang mendengar berita di televisi,,ada yang makan nasi aking, sedih ya.

Ini halaman depan rumahku ..
Di siang hari seringnya aku habiskan dengan tidur siang, bermain. Kadang kami datang ke rumah kepala desa untuk menonton televisi. Masih hitam putih jaman dulu. Untuk masuk kerumah kepala desa biasanya kami membasuh kaki kami terlebih dahulu. Karena rumah pak lurah ini berbeda dari mayoritas rumah di desa ini. Sudah beralaskan lantai. Walau lantai abu-abu. Atau kadang kami bermain di kali menangkap ikan, atau udang dengan cara membendung alirannya lalu dikuras bersama-sama. Ini sangat menyenangkan.
Dan menjelang sore harus kembali ke rumah. Mandi dan bersiap berangkat ke masjid untuk mengaji bersama teman-temanku. Shalat maghrib dan isya berjamaah di masjid. Dan usai isya biasanya orang tua kami atau keluarga sudah ada yang menjemput di depan masjid. Biasanya nenekku menjemputku sambil membawa obor sebagai penerang jalan melewati jalan desa beberapa rumah tetangga kami. Dulu listrik belum masuk ke desa kami.


Tampak samping rumahku ...ayo berkunjung

Itulah keseharianku menghabiskan masa kecil. Dan sebelum hari itu tiba dan merubah segalanya. Ketika aku di kelas waktu itu masih pagi, guruku menyuruhku keluar kelas menuju ruang kepala sekolah. Disitu ternyata ada bapakku. Beliau baru tiba dari Bandung. Niat bertemu dengan pihak sekolah adalah untuk mengurus kepindahanku saat itu juga. Entah aku lupa dulu bagaimana perasaanku. Yang jelas kini saatku bercerita menulis bagian ini. Kelopak mataku mulai memanas, hatiku berdebar. Mungkin aku kini bisa mewakili dan merasakan perasaan nenek dan kakekku yang telah merawat dan membesarkanku. Kini aku baru mengerti. Aku membereskan barang-barangku di meja memasukkannya ke dalam tas dan pamit kepada teman dan sekolah. Aku pulang ke rumah dengan bapakku.  Membereskan barang-barangku untuk pindah menetap di Bandung.  Mungkin jika aku mengingatnya lagi, dulu aku hanya pamit biasa kepada nenek dan kakekku seolah anak kecil yang sedang menikmati masa liburannya dan akan berlibur ke kota. Namun, di dalam hati mereka pasti berat dan menjerit melihat kepergianku. Dan terbayang olehku kini mereka kesepian hanya tinggal berdua melalui hari-hari mereka yang sederhana tanpa tingkah dan tawaku di sana. Sekarang aku sudah bisa mengerti keputusan ini.  Waktu itu aku duduk di bangku kelas lima.

Setibaku di rumah aku berjumpa dengan dua adik lelakiku dan ibuku. Sekolahku pun masih di seputaran komplek. Aku cukup bisa dibilang cepat dalam beradaptasi. Baik dalam pertemanan maupun komunikasi. Untuk percakapan aku menggunakan bahasa Indonesia. Karena bahasa daerah disini belum cukup aku mengerti. Kini aku sudah mempunyai teman. Kami semeja duduk bertiga. Ketika berangkat kami saling menunggu di rumah teman yang paling dekat dengan sekolah.

Hari -hariku kuhabiskan dengan sekolah, bermain usai pulang sekolah, kadang belajar bersama. Menjelang sore sampai malam aku mengaji dan di saat libur sekolah biasanya mengisi kegiatan dengan pesantren kilat.
Aku rindu masa laluku, rindu nenekku dan kakekku. Kini nenekku sudah berada di tempat yang tenang di sana. Aku ingat dulu aku sangat kehilangan ketika beliau pergi..aku menangis.  Aku sangat dekat dengan nenekku. Dialah yang sabar menghadapi rengekkanku ketik begitu banyak permintaanku. Dialah yang membuat makanan yang tidak bisa aku kunyah dulu. Ketika gigiku belum kuat untuk melumatkan makanan keras tersebut. Nenekku melumatkannya lalu aku baru bisa menelan dan merasakan makanan tersebut.

Di sela-sela kesibukan ..






Kini hanya tinggal kakekku seorang diri di sana. Kini ia begitu renta dan kuat di waktu yang bersamaan. Aku merindukanmu Kek..Nek..aku ingin pulang..aku hanya bisa menitipkan padaMu ya Tuhan..kiranya engkau menjaga dan mencukupkan ia disana. Amien..

Komentar

  1. Aku ngebaca tulisan km ini jd ikut ke bawa flashback tentang masa kecil dulu 🙂

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencicipi pesona Bumi Nusantara [Edisi Bromo dan Waterfall Madakaripura 2]

Ketika sebagian besar orang bilang bahwa saat matahari terbit adalah waktu yang pas untuk memulai perjalanan. Ya..kami sependapat dengan ini. Masing-masing dari kami ketika akan mulai merencanakan, ketika kami akan bersiap tidur di malam hari, ketika kami bergegas bangun dari tempat tidur, dan ketika kami berpamitan melangkahkan kaki untuk sejenak pergi meninggalkan semua kebiasaan yang biasa kami lakukan. Semangat langkah kaki dan dada ini tidak biasa, kami meyakini akan ada sesuatu yang besar yang akan kita raih...ya kami punya mimpi. Dan mimpi ini yang akan kita wujudkan.  5 sabahat tersenyum siap menjemput mimpi Terminal, stasiun, bandara, adalah sebagian tempat yang serupa untuk singgah, mengukir cerita dan dimana ada yang datang dan ada yang pergi. Stasiun di kota Bandung ini adalah saksi langkah awal perjalanan kami. Kami membuat janji untuk bertemu disini dan mengawali mimpi kami. Satu per satu dari kami pun tiba dengan langkah yang walaupun sedikit gontai karena p...

Berburu senja di Negeri Laskar Pelangi

Tepat satu minggu kemarin dapat landscape ini. Gambar ini menjadi moment berharga saya bersama kedua teman saya kala itu. Cuaca yang sulit ditebak, sedari pagi hingga siang hujan menghiasi kota Belitung. Hujan deras sempurna melumpuhkan sejenak rencana kami menuju destinasi yang sudah kami rancang di hari kedua. Harapan kami untuk bisa menikmati sunrise di kota Laskar Pelangi harus tertunda. Rona langit kala itu sedikit mengacaukan semangat kami. Baru di siang hari matahari mulai menampakkan teriknya. Langit biru, awan putih, kami bersorak kecil, senyum kecil tersungging dari bibir kami. Harapan dan semangat kami melanjutkan destinasi yang sempat tertunda tadi mulai tumbuh. Kami banyak menghabiskan waktu siang kami bermain di Pantai Tanjung Lesung. Kami urungkan niat kami untuk menyebrang ke Pulau Lengkuas dikarenakan personil kami hanya tiga orang dan juga waktu yang tidak memungkinkan.  Setelah kami puas bermain-main dibawah terik matahari di Pantai Tanjung Lesung kami bergegas...

Setiap detik ..

“...karena setiap detik yang berlalu adalah kenangan, jangan pernah meremehkan hal-hal kecil yang menyapamu.” Ada ungkapan yang mengatakan bahwa dia yang bahagia di dunia ini ialah ia yang pandai menemukan hal-hal kecil untuk berbahagia. Mengapa hal-hal kecil? Hal-hal kecil yang seperti apa? Bagaimana cara menemukannya? Sederet pertanyaan pun muncul. Kenapa dengan hal-hal kecil tersebut? Justru karena kecil sebagian dari kita melupakannya. Kita kadang melupakan bahwa sesuatu yang besar tumbuh dari sesuatu yang kecil. Disini saya akan berbagi cara sederhana menemukan dan menikmati kebahagiaan saya. Seperti yang kita ketahui dan rasakan bahwa rutinitas terkadang membelenggu kita untuk keluar dari zona nyaman. Terkadang juga padatnya rutinitas menjadi satu alasan kuat yang membatasi kita tidak bisa melakukan ini dan itu. Sebagai kaum urban masa kini yang disibukkan dengan pekerjaan dan terikat jam kantor. Terbitnya sang matahari hingga matahari tersebut pergi berganti tugas dengan sang ...