Langsung ke konten utama

Ini tentang Bahagiaku ...

Bahagia itu sederhana. Ketika kelopak mata ini terbuka di waktu fajar seiring dengan alunan gema suara adzan berkumandang. Ternyata aku bukan hanya bisa membuka mata, telinga ini juga masih berfungsi dengan baik menangkap bunyi di luar sana. Hidung ini masih bisa menghirup udara yang sejuk di pagi hari sebagai proses respirasi.

Aku beranjak untuk mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajibanku. Ini adalah wujud kecil syukurku kepadaMu atas anugerah yang engkau berikan kepadaku. Sejenak kadang aku menyempatkan untuk mengatupkan kelopak mata ini sedikit merasakan dan berdialog secara monolog denganMu. Beribu harap atas doa-doa yang aku panjatkan. Kiranya Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang mengabulkan dan membimbing langkahku untuk selalu berada di jalanMu.

Matahari sudah mulai merangkak naik ini pertanda bahwa aku harus segera bergegas melakukan aktifitas selanjutnya. Perjalanan yang harus aku tempuh menuju tempat bekerja bisa dibilang cukup menguras waktu dan sedikit energi. Sedikit tersendatnya jalanan di pagi hari seolah menjadi pemandangan yang lumrah bagi siapa saja yang melibtas di kota besar seperti kota ini. Antrean panjang kendaraan ketika akan mendekati perempatan jalan, kepulan asap kendaraan bermotor yang bebas mengudara, penjaja koran akan berlarian dengan sedikit tergopoh mengejar mobil yang membeli koran mereka, sosok polisi dengan seragam coklat yang dengan siap siaga mengatur ketertiban dan kelancaran lalu lintas, dan profesi lainnya yang menghiasi jalanan. Seolah mereka hanya pasrah menunggu antrean. Tidak banyak yang bisa dilakukan kala terjebak kemacetan selain menunggu.

Hampir setengah total waktu akan kuhabiskan di tempatku bekerja. Keybord, mouse, tumpukan berkas yang harus kuselesaikan seolah menjadi teman bisu yang bergelut dengan ku. Ia hadir hanya untuk membantuku agar bisa menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan. Aku selalu mencoba profesional mengerjakan tanggung jawab yang di emban. Lingkungan dan teman-teman di tempatku bekerja pun cukup menyenangkan. Canda, tawa, gurau kadang menjadi multivitamin alami ketika spirit dan hati kadang sedang tidak bersahabat dengan dunia luarku. Ketika penat datang, hanya cukup menyesap secangkir kopi dan kadang sejenak beranjak menuju beranda pojok, tanganku siap menggamit handle jendela. Membiarkan tangan dan pipi ini tersapu angin sore. Mendongak ke atas menatap langit yang akan segera menua. Senja. Semburat oranye nya seolah menawarkan sentuhan kehangatan. Punggung ini seolah rindu untuk dipeluk dan merasakan sorot hangatmu yang damai. Ia pun menepati janjinya untuk menyajikan suguhan yang indah bagi mata siapa saja yang menatapnya. Bagi ia yang lelah, bagi ia yang mendapatkan kebuntuan, bagi ia yang ingin mendapatkan inspirasi, bagi ia yang rindu berada di tengah-tengah keceriaan orang-orang terkasihnya, bagi ia yang rindu mengadu dan bercerita tentang apapun. Inilah salah satu keping keindahan alam milikMu yakni Matahari mulai tenggelam di cakrawala barat, menyembunyikan sejenak keindahan. Aku hanya bisa berucap lirih dan merunduk. Terima kasih Tuhan ^_^.

Mengapa ia hanya hadir sesaat disaat aku mulai nyaman merasakan kehadiranmu. Engkau malah memilih pergi meninggalkanku. Tenggelam. Mungkin terkadang aku terlambat menyadari bahwa engkau sudah hadir menawarkan kehangatan. Ketika kadang aku sedikit terlambat menyadarinya, aku akan berusaha berlari. Walaupun hasilnya hanya bisa melihat punggung mu saja yang kian menjauh pergi gelap. Tapi setidaknya aku bersyukur karena masih bisa mencicipi pelukanmu yang hangat di punggungku. Mengapa aku selalu menyukai kehadiranmu yang hanya sesaat. Semoga senyum yang singgah kepadaku pun tidak hanya hadir sesaat. Ijinkan aku untuk menikmati senyum-senyum lainnya.

Sang cakrawala pun bersiap mengiringi ku hingga langit berhias bintang. Sementara rindu masih berucap bagai gemuruh. Gemerlap nya bintang di atas sana seolah dikimkan olehMu untuk menemani ku sebagai pengganti senja yang telah pergi.Kini langit hanya penuh dengan bintang-bintang yang bermain di sekeliling sorot satu bintang besar. Yakni Bulan. Alangkah indahnya pemandangan langit malam. Aku tahu ini, aku adalah salah satu insan yang beruntung  masih bisa melihat dan merasakan apa yang Engkau kirim. Bintang gemerlap di langit yang menghiasi angkasa di kala malam hari menjelma seolah engkau ada di sana akan menjagaku di waktu aku terlelap.  Aku menikmati istirahatmu. Kutitipkan mimpi-mimpiku padamu. Terukir harap kan jadi penerang jiwa. Ini adalah senyumku usai senja.

Aku meyakini bahwa kebahagiaan yang sempurna itu terdiri dari kepingan-kepingan seperti kepingan puzzle. Ia akan menjadi cerita yang indah dan sempurna kala aku mampu melihat dan bersyukur atas kepingan yang aku dapatkan. Karena bagi Tuhan, selalu ada waktu yang tepat sekaligus mengejutkan untuk menciptakan keajaiban dan kebahagiaan untukmu. Kupanjatkan doa agar aku terjaga dengan baik kala kelopak mata ini tertutup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencicipi pesona Bumi Nusantara [Edisi Bromo dan Waterfall Madakaripura 2]

Ketika sebagian besar orang bilang bahwa saat matahari terbit adalah waktu yang pas untuk memulai perjalanan. Ya..kami sependapat dengan ini. Masing-masing dari kami ketika akan mulai merencanakan, ketika kami akan bersiap tidur di malam hari, ketika kami bergegas bangun dari tempat tidur, dan ketika kami berpamitan melangkahkan kaki untuk sejenak pergi meninggalkan semua kebiasaan yang biasa kami lakukan. Semangat langkah kaki dan dada ini tidak biasa, kami meyakini akan ada sesuatu yang besar yang akan kita raih...ya kami punya mimpi. Dan mimpi ini yang akan kita wujudkan.  5 sabahat tersenyum siap menjemput mimpi Terminal, stasiun, bandara, adalah sebagian tempat yang serupa untuk singgah, mengukir cerita dan dimana ada yang datang dan ada yang pergi. Stasiun di kota Bandung ini adalah saksi langkah awal perjalanan kami. Kami membuat janji untuk bertemu disini dan mengawali mimpi kami. Satu per satu dari kami pun tiba dengan langkah yang walaupun sedikit gontai karena p...

Berburu senja di Negeri Laskar Pelangi

Tepat satu minggu kemarin dapat landscape ini. Gambar ini menjadi moment berharga saya bersama kedua teman saya kala itu. Cuaca yang sulit ditebak, sedari pagi hingga siang hujan menghiasi kota Belitung. Hujan deras sempurna melumpuhkan sejenak rencana kami menuju destinasi yang sudah kami rancang di hari kedua. Harapan kami untuk bisa menikmati sunrise di kota Laskar Pelangi harus tertunda. Rona langit kala itu sedikit mengacaukan semangat kami. Baru di siang hari matahari mulai menampakkan teriknya. Langit biru, awan putih, kami bersorak kecil, senyum kecil tersungging dari bibir kami. Harapan dan semangat kami melanjutkan destinasi yang sempat tertunda tadi mulai tumbuh. Kami banyak menghabiskan waktu siang kami bermain di Pantai Tanjung Lesung. Kami urungkan niat kami untuk menyebrang ke Pulau Lengkuas dikarenakan personil kami hanya tiga orang dan juga waktu yang tidak memungkinkan.  Setelah kami puas bermain-main dibawah terik matahari di Pantai Tanjung Lesung kami bergegas...

Setiap detik ..

“...karena setiap detik yang berlalu adalah kenangan, jangan pernah meremehkan hal-hal kecil yang menyapamu.” Ada ungkapan yang mengatakan bahwa dia yang bahagia di dunia ini ialah ia yang pandai menemukan hal-hal kecil untuk berbahagia. Mengapa hal-hal kecil? Hal-hal kecil yang seperti apa? Bagaimana cara menemukannya? Sederet pertanyaan pun muncul. Kenapa dengan hal-hal kecil tersebut? Justru karena kecil sebagian dari kita melupakannya. Kita kadang melupakan bahwa sesuatu yang besar tumbuh dari sesuatu yang kecil. Disini saya akan berbagi cara sederhana menemukan dan menikmati kebahagiaan saya. Seperti yang kita ketahui dan rasakan bahwa rutinitas terkadang membelenggu kita untuk keluar dari zona nyaman. Terkadang juga padatnya rutinitas menjadi satu alasan kuat yang membatasi kita tidak bisa melakukan ini dan itu. Sebagai kaum urban masa kini yang disibukkan dengan pekerjaan dan terikat jam kantor. Terbitnya sang matahari hingga matahari tersebut pergi berganti tugas dengan sang ...