Mengawali tahun 2014 ini saya bersama 3 orang teman berkesempatan mengunjungi salah satu daerah yang mempunyai julukan sebagai daerah istimewa ini. Ya, selain daerah yang sering disebut serambi mekah ada satu lagi yakni daerah istimewa Yogyakarta.
Sebenarnya kota ini bukan lagi daerah yang asing bagi saya yang kental berdarah jawa. Baik secara bahasa maupun budaya. Jalan-jalan kali ini sekaligus untuk kembali mengasah kemampuan saya berkomunikasi menggunakan bahasa jawa.Ada beberapa keuntungan loh jika kita bisa menggunakan skill ini. Misalkan untuk tawar menawar, syukur-syukur dapat harga yang jauh lebih murah dari harga yang ditawarkan. Selain itu juga untuk bertanya jalan ketika kita tidak tahu harus kemana dan menggunakan apa. Sehingga akan tercipta komunikasi yang seperti saudara yang dipertemukan kembali. Karena kita merasa dekat dengan mereka. Agar tidak kena tipu-tipu he...toh kita pun sama dengan mereka.
Agenda utama saya sebenarnya adalah menyambangi kawasan kaliurang yaitu volcano Merapi. Setelah kami puas di Merapi. Menjelang petang kami bermalam di daerah Jogokaryan. Usai kami berbenah, membersihkan diri dan mengganti kostum. Saatnya kami keluar mencicipi udara malam di kota istimewa ini. Mobil bersama driver sudah siap menanti dan membawa kita berselancar di tengah kota. Driver kami membawa kami berkeliling melewati alun-alun utara. Jalanan kami sedikit tersendat karena padatnya kendaraan yang melintas dan kendaraan yang parkir hilir mudik keluar masuk. Wah...ternyata disini sedang ada pasar malam. Eits..tapi ini bukan hanya sekedar pasar malam biasa yang identik dengan hiburan rakyat, aneka permainan anak dan penganan khas daerah. Ini adalah salah satu wujud perayaan hari ulang tahun Nabi Muhammad s.a.w. yang biasanya sering disebut dengan Sekaten.
Sekaten atau upacara Sekaten (berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat) adalah acara peringatan ulang tahun Nabi Muhammad s.a.w. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul awal tahun Hijrah) di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.
Sebenarnya dahulu kala di alun-alun ini tidak semeriah ini ada permainan dan lain sebagainya. Acara tabliqh akbar dengan Kyai atau ulama ternama lah dahulu peringatan ini digelar. Namun, seiring perkembangan zaman dari waktu ke waktu kini ketika saat perayaan sekaten tiba ditambah aneka wahana yang menyediakan aneka permainan anak, penganan khas Jogja dan ajang menghabiskan malam warga masyarakat Jogja.
Untuk menyambut ritual perayaan sekaten ini akan banyak mbah-mbah yang kita temukan di area Masjid dan keraton yang menjual aneka penganan khas sekaten. Yakni ndog abang (telur merah), biji kinang, sego gurih (nasi gurih), dan bunga kantil.
Masing-masing penganan tersebut tentu bukan hanya sembarang dibuat dan dijajakan begitu saja. Konon biji kinang dan ndog abang yang ditusuk menggunakan bambu ini katanya dipercaya bisa membuat badan kita menjadi tambah sehat dan awet muda. Sedangkan sego gurih atau nasi gurih yang lengkap dengan pelengkap lauk pauknya jika kita membeli dan mencicipinya ini dimaksudkan adalah simbol bahwa kita sebagai manusia harus mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan hingga sekarang. Dengan makan nasi yang sudah diberi bumbu gurih ini diharapkan kehidupan kita akan semakin terasa nikmatnya.
Harga ndog abang ini Rp. 2.000-,/biji dan Rp.1.000-,/buah untuk biji kinang yang sudah dibungkus dengan daun pisang bersama daun sirih dan dihiasi bunga kantil. Ya...pastinya mbah-mbah yang bermunculan ini menjadikan tradisi lebih lestari dan daya tarik tersendiri buat kami turis lokal bahkan untuk turis mencanegara yang sedang berkunjung.
Selain penganan di atas masih ada ritual lainnya yaitu grebeg muludan. Ini biasanya ditandai dengan adanya gunungan besar yang terbuat dari beras ketan dengan pelengkap makanan aneka hasil bumi, buah-buahan dan aneka sayur-sayuran. Biasanya setelah gunungan yang dianggap sakral ini didoakan oleh pemangku keraton bersama abdi dalem, ribuan warga masyarakat menanti berebut apa saja yang bisa diambil dari gunungan ini. Misalnya, janur. Apa yang diambil atau dimakan akan dibawa pulang dan akan ditanam di sawah/ladang mereka. Hal ini konon dipercaya bisa membuat tanah mereka subur dan untuk kelangsungan hidup mereka yakni akan terhindar dari segala bencana buruk dan malapetaka.
Demikian cerita singkat mengenai jalan-jalan saya di malam hari melihat pasar malam di alun-alun utara Jogja. Hm..unik ya. Saya sebagai warga negara Indonesia sangat bangga memiliki budaya ini. Memang negeri ini kaya akan budaya dan adat istiadat. Terlepas dari akan mempercayai maksud ritual tersebut atau tidak. Tentunya acara-acara seperti ini harus tetap dilestarikan. Karena ini adalah harta yang akan menjadi jati diri bangsa kita.
Semoga di esok-esok hari saya bisa mengunjungi acara-acara seperti ini di daerah lain di Indonesia. Love Big Indonesia. ♥♥♥♥♥♥♥
Sumber:
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Sekaten
Komentar
Posting Komentar