Mbah niki nopo ? Tiga kata ini mengawali ketertarikan saya untuk membeli es potong yang dijajakan lelaki yang sudah sangat senja ini. Sebenarnya ini hanyalah trik agar saya bisa berbincang dan ngobrol sedikit dengan beliau. Entah dorongan apa yang membuat saya begitu tertarik untuk mengetahui lebih dalam sisi lain kehidupan beliau. Salah satunya mungkin karena secara tidak langsung pun saya masih mempunyai mbah yang seusia dengan beliau.
Singkat cerita untuk melanjutkan perbincangan kecil tersebut saya menggunakan bahasa jawa sekaligus mengasah kembali kemampuan terpendam yang sudah jarang sekali saya gunakan sehari-hari. Ya..walaupun tidak terlalu menggunakan bahasa dengan kromo inggil yang halus. Mungkin beliau juga maklum saya turis he...jadi kadang saya keceplosan bahasa sunda. Hee...
Berikut adalah deskripsi obrolan singkat dengan beliau. Kalau saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia beginilah kira-kira :
> Saya : Mbah ini es buat sendiri atau bagaimana?
> Mbah : Oh..enggak Mbak'e saya ambil di toko orang cina sebelah selatan situ. Ga jauh dari sini.
> Saya : Ini mbah setiap hari mangkal disini ? Memang rumahnya dekat dari sini ?
> Mbah : Iya saya mangkal disini Mbak. Saya rumahnya di Bantul. Kira-kira kurang lebih jaraknya dua puluhan kilometer. Seusai shalat Shubuh saya bergegas mengayuh sepeda ke tempat ini.
> Saya : Wow..(Hm..saya langsung terdiam beberapa saat tidak bisa melanjutkan pertanyaan selanjutnya. Iya sih memang setahu saya Bantul memang agak jauh dari pusat kota ini. Ya..sang fajar yang keluar dari tempat persembunyiannya pun seolah sama dengan semangat beliau mencari nafkah). Lalu ini biasanya sampai jam berapa disini ? Apakah habis terjual semuakah ?
> Mbah : Sampai sehabisnya. Tak jarang kadang bahkan sampai magrib.
> Saya : Punya anak berapa Mbah ? Apa kegiatan mereka sehari-hari ? ( ini adalah pertanyaan yang mendasari saya kemana ya anak-anak mereka? Kok bapak tua renta seperti ini masih dibiarkan mencicipi kerasnya kehidupan dibawah terik sang matahari)
> Mbah : Anak saya tiga. Sudah besar -besar semua. Sudah berkeluarga. Mereka ada yang jadi buruh pabrik, kuli bangunan, dan supir. Hanya ini sementara yang bisa saya lakukan Mbak. Beberapa pekerjaan sudah saya lakoni sebelumnya. Tapi karena keterbatasan usia dan tenagalah yang menjodohkan saya dengan pilihan ini. Untuk berbicara dengan jelas pun saya tidak bisa Mbak. Saya sudah ompong alias kempot, gigi saya sudah tanggal semua.
Itulah obrolan singkat saya dengan beliau. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari cerita ini. Bahwa hidup itu pilihan. Terbukti bahwa usia senja tidak menghalangi semangat beliau untuk mengisi sisa hidupnya dengan kegiatan yang positif. Tidak meminta-minta seperti pemandangan yang banyak saya jumpai di kota besar. Keterbatasan bukan berarti harus menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup. Disisi lain mungkin kita merasa malu dengan beliau. Di usia yang masih muda kadang kita bermalas-malasan.
Ada pepatah mengatakan pelajaran gak cuma bisa di dapat dalam satu kotak bernama kelas, kelas yang sebenarnya berbentuk bulat (bumi), maka kelilingilah untuk belajar. Siapa tahu dari sebuah peristiwa sederhana dapat mengubah total hidup kita. Ya...mungkin jika kita mau diluar aktifitas rutin kita lalukan sesuatu hal yang tidak biasa yang akan mengajak kita memahami hidup dengan cara yang unik, dengan memaknai peristiwa-peristiwa kecil sehari-hari secara mendalam.
Semoga senantiasa kita selalu menjadi orang yang bisa bersyukur dan berterima kasih atas karuniaNya.
Sehat terus ya mbah.....
*oia..btw jika ada yang berkesempatan kesana saya lupa menanyakan nama Mbah tersebut...he...saking asyik ngobrolnya.
Komentar
Posting Komentar