Berfoto dulu di dalam kereta..cheerss |
Sekali lagi Kamis ini menjadi hari yang punya cerita semangat berbeda di saat pagi menjelang. Berbagai impian, persepsi dan khayalan kami bungkus dalam satu semangat untuk menengok sisi lain cerita dan mencuri secuil remahan dari banyaknya pesona keindahan bumi nusantara ini.
Sorot matahari yang kala itu bersinar cukup terik tidak menyurutkan langkah kami bergegas menuju angkutan kota yang sudah kami booking untuk membawa kami menuju stasiun Bandung. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kami tiba di stasiun. Kami bergegas menuju pintu masuk untuk sedikit proses pengecekan tiket. Usai pengecekan selesai, kami dengan sedikit irama langkah kaki yang agak cepat mencari gerbong yang tercetak sesuai tiket.
KA Malabar kelas Bisnis lah yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Deru nyaring mesin dan tanda peluit ditiupkan yang khas dari moda massal favorit di negeri ini tepat pukul 15:35 WIB maju secara perlahan meninggalkan kota ini untuk sejenak.
Langit yang memerah karena senja seolah mengiringi dan mengantarkan kami menuju pemberhentian-pemberhentian di stasiun berikutnya hingga ia tenggelam dalam gerakan lambatnya. Aneka celotehan, canda gurau, dan makan bersama menambah atmosfer dalam gerbong ini menjadi semakin hangat. Seiring waktu yang terus bergulir dikarenakan sebagian dari kami menempuh lebih dari berjam-jam menggunakan kereta ini adalah akan menjadi pengalaman pertama, pegal, suntuk pun kami rasakan. Tidur terpejam dengan posisi duduk dan bersandar sekenanya pun menjadi pilihan untuk menghabiskan perjalanan malam ini.
Sorot matahari yang menembus kaca jendela ini seolah membukakan kelopak mata yang entah sudah berapa jam terkatup rapat. Entah sudah berapa bukit, pegunungan, areal pesawahan, ladang dan sungai kah yang sudah ditempuh oleh KA Malabar ini. Pagi datang lebih manis dan anggun bagi kami. Pukul 07:25 hari Jum'at kami tiba di stasiun Malang. Sambil menunggu mobil yang akan membawa kami ke tempat istirahat kami sejenak. Kami sempatkan untuk berjalan-jalan menyusuri jalan sekitar depan stasiun Malang. Aneka warna bunga, tanaman dan air mancur di tengah taman menjadi pemandangan yang akan menjadikan kesan pertama dari kota ini. Sejuk, indah, bersih walaupun dengan kondisi badan yang sedikit pegal dan aneka aroma yang tersisa di perjalanan semalam . Ya, ini menyenangkan. Awal yang baik bukan ?
| Singgah di Taman Alun-alun Bundar depan Balai Kota |
| Berjalan menuju taman sambil menunggu jemputan tiba |
Sambutan yang sempurna dari tuan rumah pun dihadirkan di tempat kami beristirahat sejenak yakni di kediaman rekan dan bos kami Bu Fenny. Kami silih berganti saling mengantri membersihkan diri untuk mandi dan ngopi-ngopi untuk menghangatkan tubuh. Lalu lanjut sedikit briefing santai sharing, menentukan destinasi-destinasi yang akan kami kunjungi. Itinerary telah terangkum. Kami bergegas untuk beranjak menuju destinasi yang pertama di Jum'at siang ini. Pertanda baik untuk mengalami kota Malang yang pertama bagiku khususnya.
1. Coban Rondo
Destinasi pertama
kami menuju ke kota Batu. Sebagai informasi kota Batu dahulu bagian dari
Kabupaten Malang, sejak tahun 2001 memisahkan diri setelah ditetapkan
menjadi kota. Kota Batu termasuk kota yang ada dalam datarang tinggi di
Jawa Timur. Di kelilingi beberapa gunung seperti Arjuno atau Kawi,
menjadikan kota ini memiliki hawa yang sejuk dan banyak potensi wisata
salah satunya yakni air terjun Coban Rondo. Waktu tempuh kurang dari
satu jam dari pusat kota Malang kami habiskan dengan tengok kanan kiri,
menampakan wajah yang sangat antusias melihat sisi lain kota ini. Jalan
berkelok di pegunungan, dengan udara sejuk yang menyambut seolah
memberikan tawaran yang semakin menarik buat kami. Semakin penasaran.
Setelah memarkir kendaraan dan membeli tiket masuk kami harus berjalan kaki sejauh 200 meter untuk menemukan air terjun ini. Bagi yang sedikit menyukai trekking mungkin untuk menemukan surga tersembunyi kurang menantang. Berjalan ditengah pepohonan dan udara yang sejuk memang sangat menyenangkan. Suasana kala itu cukup ramai dikarenakan memang saat libur panjang. Di tengah perjalanan kita akan disapa oleh beberapa kawanan monyet kecil-kecil yang hidup liar di taman satwa tersebut.
Setelah memarkir kendaraan dan membeli tiket masuk kami harus berjalan kaki sejauh 200 meter untuk menemukan air terjun ini. Bagi yang sedikit menyukai trekking mungkin untuk menemukan surga tersembunyi kurang menantang. Berjalan ditengah pepohonan dan udara yang sejuk memang sangat menyenangkan. Suasana kala itu cukup ramai dikarenakan memang saat libur panjang. Di tengah perjalanan kita akan disapa oleh beberapa kawanan monyet kecil-kecil yang hidup liar di taman satwa tersebut.
| Air Terjun Coban Rondo |
| Berfoto dibawah percikan air terjun |
| Cilok Salome yang menggugah selera |
| Bermain petak umpet di Taman Labirin |
Usai dirasa cukup menikmati percikan air yang menghujam pakaian kami yang sudah sedikit basah kuyup kami melanjutkan masih di area yang sama yakni bermain di taman labirin. Taman ini cukup luas dan tinggi. Cukup membuat bingung dan tersesat menemukan jalan yang benar untuk menuju ke taman yang berada di tengah dan ketika kembali menemukan jalan pulang.
2. Jatim Park 2
Di hari kedua kami bermain di area Jatim Park 2. Matahari mengalirkan rasa panasnya, meraung ganas menggigit kulit kami. Kami tiba pukul setengah 11 siang. Antrean panjang yang mengular pun sudah menjadi pemandangan begitu kami tiba. Kami membeli tiket terusan yakni Rp. 120.000 (seratus dua puluh ribu rupiah) dengan wahana paket Eco Green Park, Secret Zoo dan Museum Satwa. Rute pertama kami menuju Eco Green Park. Wahana ini menyajikan tempat wisata bernuansa lingkungan dan ekosistem yang dikemas secara cantik sangat cocok untuk sarana pengenalan dan pembelajaran. Disini kita akan menemukan aneka jenis satwa yang jarang kita jumpai di kehidupan sehari-hari atau bahkan satwa ini berlabel punah, atau terancam punah. Selain satwa juga kita akan menemukan aneka flora dan fauna yang beraneka ragam dari seluruh penjuru dunia.| Naik kereta menuju Eco Green Park |
Di Secret Zoo ini kami disuguhkan dengan aneka satwa yang lebih liar lagi. Area ini dihuni oleh berbagai jenis primata, unggas, reptil, landak dan burung. Selain itu juga kita bisa melihat ratusan jenis ikan di dalam akuarium yang pastinya jarang kita jumpai. Disini yang paling berkesan kita juga bisa berinteraksi dari dekat dengan memberi makan wortel kepada bison, jerapah, unta dan hewan-hewan lainnya yang cukup terkenal liar dan hidup bebas dihabitatnya.
Sedangkan di Museum Satwa kita di awal masuk akan dijumpai dengan kerangka hewan purba yang maha dahsyat besarnya. Museum ini menyajikan satwa-satwa yang diawetkan dan fosil-fosil purba yang didatangkan dari berbagai Negara diseluruh benua. Seluruh satwa awetan yang ada di Museum Satwa diperoleh tidak dengan sengaja diburu tetapi diawetkan dari satwa yang telah mati.
Saking luasnya area Jatim Park 2 ini kami harus memaksimalkan waktu yang ada agar semua sempurna terjamah. Namun, tetap saja ada beberapa wahana yang tak sempat kami kunjungi. Untuk melepas jenuh dan kebosanan kami akhiri kunjungan kami disini dengan bermain di wahana yang sedikit memacu adrenaline. Ada rumah hantu, ontang-anting, roller coaster dan lain-lain. Dari teriknya sang matahari sampai senja membentang sempurna di langit kota Batu ini. Kami sudahi bermain di area Jatim Park 2. Rasa puas dan lelah pun menjadi satu paket cerita yang tertoreh dalam sejarah kami hari ini.
3. Batu Night Spectacular (BNS)
Usai
dari Jatim Park 2 tidak jauh kami menuju ke destinasi yang konon disana
akan melihat banyak deretan lampion yang menyala menyinari langit malam
yang berkabut di kota Batu ini. Walaupun matahari telah menarik diri
dan berganti tugas dengan bulan, namun suasananya tetap ramai. Bisa
disebut ini adalah mini kota Las Vegas nya Jawa Timur, celotehan seorang
teman dari kami. Suasana ramai, dentuman bunyi musik yang saling
mengadu, riuh, sesak, membuat kami berjalan mencari sudut yang nyaman
untuk kami bisa sedikit menikmatinya. Lalu kami habiskan untuk sekedar
berkeliling menghampiri kios-kios yang berada di area BNS ini. Tak lama
kami memutuskan untuk bergegas pergi, walaupun sebenarnya jika kaki ini
masih kuat melangkah untuk membelah dan menyusup padatnya kerumunan
pengunjung kami ingin mengetahui lebih banyak dan menjajal aneka
permainan yang memacu lagi adrenaline kami. Namun apa daya, kami memilih
untuk kembali ke kota Malang mencari makan malam setelah seharian
melangkah dan berjalan di bawah terik matahari.
| Batu Night Spectacular |
Usai makan malam soto lamongan dan bakso bakar kami kembali ke penginapan. Ketika akhirnya bisa kurebahkan badan, punggung ini rasanya sangat rindu empuknya kasur dan ini saatnya bergelung dalam gelapnya langit berbintang kota apel ini.
Pagi menjelang, ini adalah pagi terakhir kami hari ketiga di kota ini. Kami berbenah menyiapkan dan memastikan peralatan dan barang pribadi tidak ada yang tertinggal. Kami berpamitan kepada Mbak Lasmi (penjaga rumah). Udara pagi menggiring kami ke kawasan car free day Ijen. Disini kami berkuliner memanjakan mata dan lidah tentunya. Kami mencoba kopi bumbung yang khas, aneka cilok dan tak lupa santap pagi sarapan. Usai puas berjalan kaki di car free day, kami bertolak dengan berbekal teknologi canggihnya GPS dan hasil bertanya sana-sini ke penduduk yang kami jumpai menuju ke sentra oleh-oleh khas kota Malang.
Di salah satu toko di kawasan Sanan ini kami sibuk dengan keinginan masing-masing bahkan harus sedikit berdesakan dengan pengunjung lainnya. Aneka keripik buah, keripik tempe dan pia pun sudah kami dapatkan. Masing-masing dari kami dikemas dalam satu dus kemasan yang sudah didesain cantik untuk tempat aneka buah tangan ini. Butuh energi ekstra untuk bisa menyelesaikan bagian ini. Dikarenakan ruang toko yang tidak terlalu besar disertai jumlah pengunjung yang cukup berdesakan dan antrian panjang pada saat akan menuju bagian kasir.
Usai semua masing-masing dari kami selesai. Kami mengarahkan setir ini ke tempat dimana sudah menunggu dengan cantiknya moda transportasi yang akan membawa kami kembali pulang ke kota asal. Stasiun Malang siang hari itu menjadi tempat singgah terakhir kami. Kami menggunakan rangkaian KA Malabar yang sama saat kami berangkat tempo hari yang lalu. Tepat pukul 12:45 rangkaian gerbong ini maju secara perlahan meninggalkan rumah sementaranya stasiun Malang.
Kami habiskan waktu perjalanan ini dengan saling melepas lelah dan bertukar cerita setelah berkejaran dengan waktu yang ada. Di stasiun Kediri kami sempatkan untuk mencicipi nasi pecel yang dijajakan di atas kereta. Tidak puas dengan nasi pecel tak lama kami menyantap pop mie. Pop mie yang kami santap dengan tidak biasa dikarenakan untuk mendapatkan mie cup ini terselip pengorbanan dari salah satu rekan kami yaitu Kiki, ia sempat jatuh terjerembab di area stasiun dikarenakan mengejar waktu yang tersedia di tempat pemberhentian ini hanya 3 menit. Ia fokus berlari menuju kios yang dilihatnya tanpa melihat ketika ia berlari ada turunan lantai yang berbeda yang tidak dilihatnya.
Kami tiba di stasiun Bandung sekitar hampir pukul 07:00 pagi. Sanagt terlambat yang seharusnya tertera di tiket tiba pukul 04:10. Entah mengapa. Yang jelas kami sekarang hanya ingin kembali pulang ke rumah kami masing-masing. Kami saling mengucapkan salam perpisahan. Perlahan punggung kami pun mulai meninggalkan stasiun ini. Dengan langkah gontai dan sisa energi yang kami punya setelah menempuh perjalanan darat yang panjang separoh siang dan sepanjang malam.
Sampai besok dan selamat istirahat teman ^_^. Kami pulang dengan rekaman memori 3 hari kami di Kota Malang dan Batu bersama-sama. Keakraban dan keseruan cerita menambah satu lagi sejarah dalam kamus hidup kami dapat mencuri secuil pesona indahnya bumi nusantara tercinta ini.
Keren Rin..
BalasHapus