Langsung ke konten utama

Kebersamaan kami mencicipi secuil pesona Kota Batu dan Malang

Berfoto dulu di dalam kereta..cheerss

Kamis ini bukan hari Kamis yang akan kami lewatkan begitu saja seperti biasa bagi kami. Karena, kami hanya akan menghabiskan rutinitas efektif kami sebagai pekerja kantoran yakni empat hari saja. Ya, bukan lagi hari Jum'at yang akrab dengan penghujung weekday tapi Kamis lah kini yang menjadi penghujungnya.
Sekali lagi Kamis ini menjadi hari yang punya cerita semangat berbeda di saat pagi menjelang. Berbagai impian, persepsi dan khayalan kami bungkus dalam satu semangat untuk menengok sisi lain cerita dan mencuri secuil remahan dari banyaknya pesona keindahan bumi nusantara ini.

Sorot matahari yang kala itu bersinar cukup terik tidak menyurutkan langkah kami bergegas menuju angkutan kota yang sudah kami booking untuk membawa kami menuju stasiun Bandung.  Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kami tiba di stasiun. Kami bergegas menuju pintu masuk untuk sedikit proses pengecekan tiket. Usai pengecekan selesai, kami dengan sedikit irama langkah kaki yang agak cepat mencari gerbong yang tercetak sesuai tiket.

KA Malabar kelas Bisnis lah yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Deru nyaring mesin dan tanda peluit ditiupkan yang khas dari moda massal favorit di negeri ini tepat pukul 15:35 WIB maju secara perlahan meninggalkan kota ini untuk sejenak.

Langit yang memerah karena senja seolah mengiringi dan mengantarkan kami menuju pemberhentian-pemberhentian di stasiun berikutnya hingga ia tenggelam dalam gerakan lambatnya. Aneka celotehan, canda gurau, dan makan bersama menambah atmosfer dalam gerbong ini menjadi semakin hangat. Seiring waktu yang terus bergulir dikarenakan sebagian dari kami menempuh lebih dari berjam-jam menggunakan kereta ini adalah akan menjadi pengalaman pertama, pegal, suntuk pun kami rasakan. Tidur terpejam dengan posisi duduk dan bersandar sekenanya pun menjadi pilihan untuk menghabiskan perjalanan malam ini.

Sorot matahari yang menembus kaca jendela ini seolah membukakan kelopak mata yang entah sudah berapa jam terkatup rapat. Entah sudah berapa bukit, pegunungan, areal pesawahan,  ladang dan sungai kah yang sudah ditempuh oleh KA Malabar ini. Pagi datang lebih manis dan anggun bagi kami. Pukul 07:25 hari Jum'at kami tiba di stasiun Malang. Sambil menunggu mobil yang akan membawa kami ke tempat istirahat kami sejenak. Kami sempatkan untuk berjalan-jalan menyusuri jalan sekitar depan stasiun Malang. Aneka warna bunga, tanaman dan air mancur di tengah taman menjadi pemandangan yang akan menjadikan kesan pertama dari kota ini. Sejuk, indah, bersih walaupun dengan kondisi badan yang sedikit pegal dan aneka aroma yang tersisa di perjalanan semalam . Ya, ini menyenangkan. Awal yang baik bukan ?

Singgah di Taman Alun-alun Bundar depan Balai Kota
Berjalan menuju taman sambil menunggu jemputan tiba

Sambutan yang sempurna dari tuan rumah pun dihadirkan di tempat kami beristirahat sejenak yakni di kediaman rekan dan bos kami Bu Fenny. Kami silih berganti saling mengantri membersihkan diri untuk mandi dan ngopi-ngopi untuk menghangatkan tubuh. Lalu lanjut sedikit briefing santai sharing, menentukan destinasi-destinasi yang akan kami kunjungi. Itinerary telah terangkum. Kami bergegas untuk beranjak menuju destinasi yang pertama di Jum'at siang ini. Pertanda baik untuk mengalami kota Malang yang pertama bagiku khususnya.

1. Coban Rondo

Destinasi pertama kami menuju ke kota Batu. Sebagai informasi kota Batu dahulu bagian dari Kabupaten Malang, sejak tahun 2001 memisahkan diri setelah ditetapkan menjadi kota. Kota Batu termasuk kota yang ada dalam datarang tinggi di Jawa Timur. Di kelilingi beberapa gunung seperti Arjuno atau Kawi, menjadikan kota ini memiliki hawa yang sejuk dan banyak potensi wisata salah satunya yakni air terjun Coban Rondo. Waktu tempuh kurang dari satu jam dari pusat kota Malang kami habiskan dengan tengok kanan kiri, menampakan wajah yang sangat antusias melihat sisi lain kota ini. Jalan berkelok di pegunungan, dengan udara sejuk yang menyambut seolah memberikan tawaran yang semakin menarik buat kami. Semakin penasaran.

Setelah memarkir kendaraan dan membeli tiket masuk kami harus berjalan kaki sejauh 200 meter untuk menemukan air terjun ini. Bagi yang sedikit menyukai  trekking mungkin untuk menemukan surga tersembunyi kurang menantang. Berjalan ditengah pepohonan dan udara yang sejuk memang sangat menyenangkan. Suasana kala itu cukup ramai dikarenakan memang saat libur panjang. Di tengah perjalanan kita akan disapa oleh beberapa kawanan monyet kecil-kecil yang hidup liar di taman satwa tersebut.
Air Terjun Coban Rondo
Berfoto dibawah percikan air terjun
Cilok Salome yang menggugah selera


Bermain petak umpet di Taman Labirin

Air terjunnya cukup tinggi, yaitu berkisar 84 meter. Jika pada musim hujan, debitnya sangat deras, yaitu bisa mencapai 150 liter/detik. Percikan dari tinggi ya airnya cukup membuat basah bagi siapa saja yng berada di dekatnya. Legendanya konon sebagai berikut mengapa dinamakan Coban Rondo. Rondo, dalam bahasa Jawa bermakna Janda. Nama Coban Rondo diambil dari dongeng awal terbentuknya air terjun ini, dimana dikisahkan seorang wanita cantik bernama Dewi Anjarwati yang menjadi janda karena suaminya, Raden Baron Kusuma, tewas dalam pertarungan melawan Joko Lelono. Joko Lelono adalah pemuda yang tertarik pada kecantikan Dewi Anjarwati dan ingin merebutnya dari Raden Baron Kusuma. Dalam pertempuran, Raden Baron Kusuma tewas dan oleh panukawan atau prajurit, Dewi Anjarwati disembunyikan di goa. Sejak saat itu, coban ini terkenal dengan sebutan Coban Rondo.

Usai dirasa cukup menikmati percikan air yang menghujam pakaian kami yang sudah sedikit basah kuyup kami melanjutkan masih di area yang sama yakni bermain di taman labirin. Taman ini cukup luas dan tinggi. Cukup membuat bingung dan tersesat menemukan jalan yang benar untuk menuju ke taman yang berada di tengah dan ketika kembali menemukan jalan pulang.

2. Jatim Park 2

Di hari kedua kami bermain di area Jatim Park 2. Matahari mengalirkan rasa panasnya, meraung ganas menggigit kulit kami.  Kami tiba pukul setengah 11 siang. Antrean panjang yang mengular pun sudah menjadi pemandangan begitu kami tiba. Kami membeli tiket terusan yakni Rp. 120.000 (seratus dua puluh ribu rupiah) dengan wahana paket Eco Green Park, Secret Zoo dan Museum Satwa. Rute pertama kami menuju Eco Green Park.  Wahana ini menyajikan tempat wisata bernuansa lingkungan dan ekosistem yang dikemas secara cantik sangat cocok untuk sarana pengenalan dan pembelajaran. Disini kita akan menemukan aneka jenis satwa yang jarang kita jumpai di kehidupan sehari-hari atau bahkan satwa ini berlabel punah, atau terancam punah. Selain satwa juga kita akan menemukan aneka flora dan fauna yang beraneka ragam dari seluruh penjuru dunia.
Naik kereta menuju Eco Green Park

Di Secret Zoo ini kami disuguhkan dengan aneka satwa yang lebih liar lagi. Area ini dihuni oleh berbagai jenis primata, unggas, reptil, landak dan burung. Selain itu juga kita bisa melihat ratusan jenis ikan di dalam akuarium yang pastinya jarang kita jumpai. Disini yang paling berkesan kita juga bisa berinteraksi dari dekat dengan memberi makan wortel kepada bison, jerapah, unta dan hewan-hewan lainnya yang cukup terkenal liar dan hidup bebas dihabitatnya.

Sedangkan di Museum Satwa kita di awal masuk akan dijumpai dengan kerangka hewan purba yang maha dahsyat besarnya. Museum ini menyajikan satwa-satwa yang diawetkan dan fosil-fosil purba yang didatangkan dari berbagai Negara diseluruh benua. Seluruh satwa awetan yang ada di Museum Satwa diperoleh tidak dengan sengaja diburu tetapi diawetkan dari satwa yang telah mati.

Saking luasnya area Jatim Park 2 ini kami harus memaksimalkan waktu yang ada agar semua sempurna terjamah. Namun, tetap saja ada beberapa wahana yang tak sempat kami kunjungi. Untuk melepas jenuh dan kebosanan kami akhiri kunjungan kami disini dengan bermain di wahana yang sedikit memacu adrenaline.  Ada rumah hantu, ontang-anting, roller coaster dan lain-lain. Dari teriknya sang matahari sampai senja membentang sempurna di langit kota Batu ini. Kami sudahi bermain di area Jatim Park 2. Rasa puas dan lelah pun menjadi satu paket cerita yang tertoreh dalam sejarah kami hari ini.

3. Batu Night Spectacular (BNS)

Usai dari Jatim Park 2 tidak jauh kami menuju ke destinasi yang konon disana akan melihat banyak deretan lampion yang menyala menyinari langit malam yang berkabut di kota Batu ini. Walaupun matahari telah menarik diri dan berganti tugas dengan bulan, namun suasananya tetap ramai. Bisa disebut ini adalah mini kota Las Vegas nya Jawa Timur, celotehan seorang teman dari kami. Suasana ramai, dentuman bunyi musik yang saling mengadu, riuh, sesak, membuat kami berjalan mencari sudut yang nyaman untuk kami bisa sedikit menikmatinya. Lalu kami habiskan untuk sekedar berkeliling menghampiri kios-kios yang berada di area BNS ini. Tak lama kami memutuskan untuk bergegas pergi, walaupun sebenarnya jika kaki ini masih kuat melangkah untuk membelah dan menyusup padatnya kerumunan pengunjung kami ingin mengetahui lebih banyak dan menjajal aneka permainan yang memacu lagi adrenaline kami. Namun apa daya, kami memilih untuk kembali ke kota Malang mencari makan malam setelah seharian melangkah dan berjalan di bawah terik matahari.
Batu Night Spectacular

   Usai makan malam soto lamongan dan bakso bakar kami kembali ke penginapan.  Ketika akhirnya bisa kurebahkan badan, punggung ini rasanya sangat rindu empuknya kasur dan ini saatnya bergelung dalam gelapnya langit berbintang kota apel ini.

Pagi menjelang,  ini adalah pagi terakhir kami hari ketiga di kota ini. Kami berbenah menyiapkan dan memastikan peralatan dan barang pribadi tidak ada yang tertinggal. Kami berpamitan kepada Mbak Lasmi (penjaga rumah). Udara pagi menggiring kami ke kawasan car free day Ijen. Disini kami berkuliner memanjakan mata dan lidah tentunya. Kami mencoba kopi bumbung yang khas, aneka cilok dan tak lupa santap pagi sarapan. Usai puas berjalan kaki di car free day, kami bertolak dengan berbekal teknologi canggihnya GPS dan hasil bertanya sana-sini ke penduduk yang kami jumpai menuju ke sentra oleh-oleh khas kota Malang.

Di salah satu toko di kawasan Sanan ini kami sibuk dengan keinginan masing-masing bahkan harus sedikit berdesakan dengan pengunjung lainnya. Aneka keripik buah, keripik tempe dan pia pun sudah kami dapatkan. Masing-masing dari kami dikemas dalam satu dus kemasan yang sudah didesain cantik untuk tempat aneka buah tangan ini. Butuh energi ekstra untuk bisa menyelesaikan bagian ini. Dikarenakan ruang toko yang tidak terlalu besar disertai jumlah pengunjung yang cukup berdesakan dan antrian panjang pada saat akan menuju bagian kasir.

Usai semua masing-masing dari kami selesai. Kami mengarahkan setir ini ke tempat dimana sudah menunggu dengan cantiknya moda transportasi yang akan membawa kami kembali pulang ke kota asal. Stasiun Malang siang hari itu menjadi tempat singgah terakhir kami. Kami menggunakan rangkaian KA Malabar yang sama saat kami berangkat tempo hari yang lalu. Tepat pukul 12:45 rangkaian gerbong ini maju secara perlahan meninggalkan rumah sementaranya stasiun Malang. 

Kami habiskan waktu perjalanan ini dengan saling melepas lelah dan bertukar cerita setelah berkejaran dengan waktu yang ada. Di stasiun Kediri kami sempatkan untuk mencicipi nasi pecel yang dijajakan di atas kereta. Tidak puas dengan nasi pecel tak lama kami menyantap pop mie. Pop mie yang kami santap dengan tidak biasa dikarenakan untuk mendapatkan mie cup ini terselip pengorbanan dari salah satu rekan kami yaitu Kiki, ia sempat jatuh terjerembab di area stasiun dikarenakan mengejar waktu yang tersedia di tempat pemberhentian ini hanya 3 menit. Ia fokus berlari menuju kios yang dilihatnya tanpa melihat ketika ia berlari ada turunan lantai yang berbeda yang tidak dilihatnya.

Kami tiba di stasiun Bandung sekitar hampir pukul 07:00 pagi. Sanagt terlambat yang seharusnya tertera di tiket tiba pukul 04:10. Entah mengapa. Yang jelas kami sekarang hanya ingin kembali pulang ke rumah kami masing-masing. Kami saling mengucapkan salam perpisahan. Perlahan punggung kami pun mulai meninggalkan stasiun ini. Dengan langkah gontai dan sisa energi yang kami punya setelah menempuh perjalanan darat yang panjang separoh siang dan sepanjang malam.

Sampai besok dan selamat istirahat teman ^_^. Kami pulang dengan rekaman memori 3 hari kami di Kota Malang dan Batu bersama-sama. Keakraban dan keseruan cerita menambah satu lagi sejarah dalam kamus hidup kami dapat mencuri secuil pesona indahnya bumi nusantara tercinta ini.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencicipi pesona Bumi Nusantara [Edisi Bromo dan Waterfall Madakaripura 2]

Ketika sebagian besar orang bilang bahwa saat matahari terbit adalah waktu yang pas untuk memulai perjalanan. Ya..kami sependapat dengan ini. Masing-masing dari kami ketika akan mulai merencanakan, ketika kami akan bersiap tidur di malam hari, ketika kami bergegas bangun dari tempat tidur, dan ketika kami berpamitan melangkahkan kaki untuk sejenak pergi meninggalkan semua kebiasaan yang biasa kami lakukan. Semangat langkah kaki dan dada ini tidak biasa, kami meyakini akan ada sesuatu yang besar yang akan kita raih...ya kami punya mimpi. Dan mimpi ini yang akan kita wujudkan.  5 sabahat tersenyum siap menjemput mimpi Terminal, stasiun, bandara, adalah sebagian tempat yang serupa untuk singgah, mengukir cerita dan dimana ada yang datang dan ada yang pergi. Stasiun di kota Bandung ini adalah saksi langkah awal perjalanan kami. Kami membuat janji untuk bertemu disini dan mengawali mimpi kami. Satu per satu dari kami pun tiba dengan langkah yang walaupun sedikit gontai karena p...

Berburu senja di Negeri Laskar Pelangi

Tepat satu minggu kemarin dapat landscape ini. Gambar ini menjadi moment berharga saya bersama kedua teman saya kala itu. Cuaca yang sulit ditebak, sedari pagi hingga siang hujan menghiasi kota Belitung. Hujan deras sempurna melumpuhkan sejenak rencana kami menuju destinasi yang sudah kami rancang di hari kedua. Harapan kami untuk bisa menikmati sunrise di kota Laskar Pelangi harus tertunda. Rona langit kala itu sedikit mengacaukan semangat kami. Baru di siang hari matahari mulai menampakkan teriknya. Langit biru, awan putih, kami bersorak kecil, senyum kecil tersungging dari bibir kami. Harapan dan semangat kami melanjutkan destinasi yang sempat tertunda tadi mulai tumbuh. Kami banyak menghabiskan waktu siang kami bermain di Pantai Tanjung Lesung. Kami urungkan niat kami untuk menyebrang ke Pulau Lengkuas dikarenakan personil kami hanya tiga orang dan juga waktu yang tidak memungkinkan.  Setelah kami puas bermain-main dibawah terik matahari di Pantai Tanjung Lesung kami bergegas...

Soreku semanis es krim

Soreku semanis kamu es krim..iya kamuuu Bosan saat weekend tiba diam di rumah. Namun, ketika akan bepergian pun serada enggan pula dikarenakan jalanan yang macet. Berangkat dari kebiasaan saat weekend anteng dengan tontonan drama romantis korea. Serasa terinspirasi saat bosan dan jenuh melanda.   Yups...tidak ada salahnya kita mencoba mengadopsi kebiasaan dalam drama korea tersebut. Konon katanya "ada saatnya sesuatu yang manis itu dibutuhkan" untuk menambah suasana menjadi manis dan tambah menyenangkan. Nah, menurut berbagai penelitian dan hasil penelurusan singkat rasa penasaran saya di dunia maya. Bahwa diantaranya coklat dan es krim mampu memberi ketenangan dan rasa rileks. Ada kandungan theobromine yang bersifat vasolidator , yakni menyebabkan pelebaran pembuluh darah. Imbasnya, otot yang tegang menjadi rileks, dan jantung yang semula "lesu" pun menjadi giat dan aktif kembali. Kondisi ini membuat suasana hati menjadi riang. ...