![]() |
| Sudut tempat ia menjajakan Es Lilin nya..teduh |
Menyambung tulisan saya sebelumnya kira-kira di Januari ini.
Saya bercerita mengenai seorang kakek renta yang menjual es lilin di kawasan
bangunan yang juga tua yakni Taman Sari Yogyakarta. Ya..cerita ini saya tulis
usai saya berkunjung ke objek wisata tersebut. Sewaktu saya dan beberapa teman
saya berkeliling di sudut bangunan bagian belakang yang tidak terlalu ramai
dikunjungi banyak orang. Kakek tersebut menjajakan es lilin yang tersimpan
rapih didalam termos es yang juga nampak usang ditelan waktu. Seorang guide yang menemani kami pun
menambahkan bahwa termos tersebut termasuk model lama jaman dahulu kala yang
beratnya tidak bisa dianggap remeh untuk bisa dibawa oleh seorang kakek yang
renta. Kakek ini setiap pagi sudah mengambil posisi duduk manis disudut yang
kurang sorot matahari di bagian belakang kompleks bangunan Taman Sari ini. Sang
guide pun menambahkan bahwa alasan sudut ini yang menjadi pilihan dikarenakan
tidak terlalu kentara berada dilingkungan kompleks bangunan Taman Sari sehingga
tidak mengharuskan bagi si kakek untuk membayar sewa tempat.
Mungkin bagi kita
harga yang tidak seberapa kala ingin mencicipi es lilin yang dijajakan oleh si
kakek. Namun, bagi si kakek satu es lilin yang seharga Rp. 2.500,- adalah
rezeki yang ia dapat untuk menambah pundi-pundinya agar bisa menambah atau
memberi sedikit uang jajan kepada sang cucu-cucunya. Sungguh perjuangan yang
sangat luar biasa untuk bisa bertahan hidup dan berguna bagi saudara dan orang lain. Setiap harinya
untuk bisa sampai kesini, usai menunaikan shalat shubuh diiringin sang fajar
yang keluar dari ufuk timur serta langit yang masih temaram gelap menuju oranye
sang kakek sudah bersiap mengayun pedal sepedanya dari rumahnya yang sederhana
di daerah Gunung Kidul menuju ke kompleks wisata ini. Sebelumnya sang kakek
harus mengambil es yang akan dijajakannya di “Toko Wong Cino” ia menyebutnya dengan itu.
Dan saat sore menjelang
usai pengunjung mulai sepi dan kompleks Taman Sari akan tutup sang kakek
beranjak kembali ke toko tersebut diatas untuk setor dan bagi hasil. Pada
tulisan saya sebelumnya saya menuturkan semoga saya bisa lagi berkunjung ke
objek wisata tersebut guna mengunjungi, mencicipi es lilin dan berbincang
dengan sang kakek. Semoga ia selalu sehat, diberikan kekuatan dan energi yang
cukup saat ia mencari nafkah. Semoga saya ataupun bahkan saya bisa mengajak teman saya yang lain agar masih diberi kesempatan untuk ini …dan bisa lebih banyak belajar dari kisah hidup beliau.
Hal ini masih begitu membekas dan menorehkan jejak hingga sudah berlalu berbulan-bulan mungkin dikarenakan saya pribadi pun masih mempunyai kakek di kampung halaman yang tinggal seorang diri. Kami sekeluarga hanya mengunjungi sesekali jika libur panjang dan hari raya Lebaran. Ia bersama nenek kami yang telah pergi lebih dulu beberapa tahun yang lalu telah membesarkan dan mengasuhku dari kecil hingga kira-kira usia 9 tahun. Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar untuk bisa membuat ikatan batin yang kuat dan rindu sesekali ini muncul saat jarak memisahkan. Semoga ia pun tetap sehat dan baik-baik, ada yang lebih Maha menjaganya secara baik.

Komentar
Posting Komentar