Langsung ke konten utama

Misteri Perjalanan Alis-Tita-Ririn


 
Bahagianya bertemu sang Hero
Saat sebagian orang di belahan bumi ini menikmati libur kejepit hari ini mungkin dengan beristirahat seharian di rumah berkumpul bersama keluarga tercinta dan menikmati sejenak ketenangan menyepi dari rutinitas biasanya. Namun, kami yakni saya, Allisya dan Tita ingin menikmati  suasana liburan dalam cerita yang berbeda. Kami sudah bersepakat jauh-jauh hari untuk mengisi hari ini bersama-sama. Pilihannya jatuh untuk melakukan aktifitas hiking ke salah satu objek wisata yang tidak jauh dari kota Cimahi yaitu Curug Cimahi. 


Diiringi terbitnya sang fajar dari ufuk timur saya berangkat dari rumah menuju meeting point bersama teman saya Tita. Tepat pukul setengah enam pagi dengan langit dan udara yang seolah-olah menawarkan keredupannya dan dinginnya membuat ingin kembali bergelung dengan selimut dan bantal dirumah. Namun ini tidak menyurutkan langkah kami untuk menuju meeting point selanjutnya bertemu dengan teman kami satu lagi yakni Allisya. 

Setelah kami bertemu dan menyapa hangat. Kira-kira pukul enam tepat kami bergegas naik angkutan kota warna ungu jurusan Cimahi-Parongpong. Si kuda besi beroda empat ini siap membelah jalur sempit pedesaan dengan disuguhi aneka hijaunya sayur-mayur segar yang ditumbuh di areal ladang warga masyarakat sekitar.  Di dalam angkot kami ngobrol-ngobrol ringan tentang apa yang akan dilakukan nanti mengenai ini dan itu. Kami sangat antusias dengan aktifitas perjalanan yang akan kami tempuh nanti. Tak sengaja kami pun sempat membeli makanan ringan yang kebetulan sedang dibawa oleh pedagangnya yang seangkot dengan kami yakni kerupuk gurilem. Kerupuk gurilem adalah makanan atau cemilan ringan sejenis kerupuk yang berbentuk silinder atau silindris yang dibumbui dengan penyedap rasa lainnya seperti vetsin, serbuk cabe rawit kering, garam, merica, bawang goreng dan lain-lain. Konon katanya penganan ini berasal dari daerah Cililin Kab. Bandung. Paduan rasa pedas, gurih dan asin membuat lidah tak mau berhenti mengecapnya.

Tiga puluh lima menit berlalu kami bergegas turun tepat di depan kampus Advent. Ongkos untuk per orang yakni Rp. 4.000-,. Setelahnya kami berjalan meninggalkan halaman kampus Advent menyusuri tepian jalan raya parongpong. Dikarenakan jalan yang tak terlalu lebar dan tidak ada zebra cross maka kami berjalan berbaris sendiri-sendiri menyusuri bahu jalan yang terkadang mepet dengan sungai yang mengalir deras dibawahnya, lembah curam dan bukit-bukit kecil dengan bunyi-bunyi satwa khas penghuni hutan dan semak belukar. Beruntung karena masih pagi kami bisa menikmati udara yang sejuk dan jalanan yang masih relatif lengang.
 

Setelah kami berjalan kira-kira 20 menit tibalah kami di pintu gerbang objek wisata Curug Cimahi. Suasana disekitar masih sangat lengang. Nyaris pertama bagi kami, ada selebaran yang ditempel di pintu gerbang bertuliskan "Maaf untuk sementara kami sedang tidak menerima pengunjung". Dengan adanya saya masih merasa penasaran dan tidak yakin atas pengumuman itu. 

Diangkot menuju Lembang
 Lalu saya mencoba berniat bertanya kepada orang sekitar di warung dan didapat informasi bahwa objek wisata tersebut sudah tidak beroperasi lagi kira-kira 2 bulan lamanya. Hal ini dikarenakan sempat ada kecelekaan yang menimpa pengunjung. Yaitu ada batu besar yang jatuh menimpa pengunjung sehingga mengalami luka yang cukup serius. Mendengar ini kami hanya bisa mengelus dada sekaligus menahan rasa kecewa kami. Kami sempatkan untuk duduk-duduk setelah hiking kecil-kecilan di depan gerbang menyaksikan monyet-monyet kecil yang asyik bermain bergelantungan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya sambil sedikit brainstorming kemanakah langkah kami selanjutnya.
 
Dikarenakan ternyata dua teman saya belum pernah ke objek wisata Tangkuban Perahu, kami memutuskan untuk mengunjungi kawasan wisata tersebut yang terletak di areal hutan Cikole. Kami pun bergegas mencari angkutan kota yang akan membawa kami ke tujuan berikutnya. Angkot tua pedesaan bercat kuning dengan pintu keluar masuk penumpang ada di belakang membawa kami hingga ke terminal Lembang. Ongkos yang harus kami keluarkan per orang yakni Rp. 5.000-,. 

Say cheerss ditengah-tengah perjalanan ..
 Sebelum kami melanjutkan berpindah ke angkutan kota jurusan Cikole. Kami sempatkan berkunjung sekaligus menumpang buang air kecil ke rumah salah satu rekan kantor kami yang saya ingat ia tinggal tak jauh dari sekitar sini yaitu Ridho. Tiba dirumahnya ia sempat kaget pagi buta sudah disambangi tiga gadis-gadis yang menawan dan memesona ini. *(Hee..boleh tunjuk tangan bagi yang tidak setuju dengan kalimat yang barusan).Ridho sedang bermain mengasuh anak perempuannya yang lucu berusia 5 bulan. Setelah dirasa cukup kami lekas pamit untuk melanjutkan perjalanan. 

 
Sheza bertemu tante Keong .
Tak jauh kami berjalan menuju tempat pemberhentian angkutan kota Cikole. Kami ditawari oleh calo yang menghampiri kami. Entah apa yang membuat para calo-calo ini seolah bisa menebak kemana kami akan pergi. Apakah kami terlihat seperti turis domestik. Mungkin dengan setelan pakaian yang kami gunakan yakni sepatu kets dan ransel dipunggung. Sudah bisa menandakan bahwa kami adalah pendatang. "Ayo..ayo Neng..Neng bade kamana. Tangkuban Perahu neng Rp.17.000-, dugi ka puncakna neng". Sekaliu lagi seolah bisa membaca pikiran kami calo itu tetap saja mengekor langkah kami. Akhirnya kami termakan bujuk rayu si calo tersebut. Namun bisa kami tawar menjadi Rp.15.000-, per orang, jadi total untuk 3 orang adalah Rp. 45.000-,. Lalu ia menggiring kami ke angkot yang akan membawa kami ke tempat yang seperti dijanjikannya tadi. Setelah beberapa saat angkot tersebut maju kami baru menyadari ternyata ia tidak menarik muatan lagi dan lajunya agak sedikit ngebut. Hm..ternyata mungkin ini adalah sistem travel atau carter. Selain supir yang sedang mengemudi ada juga keneknya yang bergelantungan di pintu. Menjelang akan memasuki kawasan pintu gerbang objek wisata sang kenek masuk dan ikut duduk guna meminta bayaran ongkos kami. "Neng punteun ongkosna heula. Rp. 85.000-, per orang". Sontak kita terkaget dengan tarikan nominal sebesar itu. 

Entah pembelaan apa yang akan kami lontarkan atas hal tersebut. Bagai disambar petir di siang bolong. Lalu kami pun melakukan sedikit jurus negosiasi kami. Setelah berlangsung tawar menawar yang cukup alot didapat harga Rp. 55.000-, per orang. Belum ditambah dengan Rp.17.000-, per orang untuk biaya karcis masuk objek wisata. Kami sudah pasrah dan merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu untuk sampai tiba melihat puncak kawah yang dijanjikan tadi. Dalam suasana menelan kekecewaan kami sambil berpikir keras bagaimana caranya kami bisa keluar dari objek wisata ini. Untuk kembali turun pulang pun kami masih harus membayar ongkos yang sama ketika kami diantar naik yakni Rp. 55.000-, tadi sampai terminal Lembang.

Entah apa yang terlintas dengan budget kami yang minim tidak lebih dari Rp. 100.000-, per orang yang ada di dompet kami. Entah magnet apa yang memicu kami untuk menghubungi seorang teman kami. Langsung saat itu juga dengan mencari celah sinyal yang susah didapat karena kami sudah berada di kawasan hutan belantara mendial nomor teman kami yang bernama Kiki. Ia adalah rekan sepermainan sekaligus rekan kantor kami juga. Kami ceritakan kejadian sebelumnya. Dan kami intinya hanya ingin bawa kami keluar dari sini. Dengan suara yang masih lemas karena kami membangunkan ia yang tengah tertidur pulas. Ia menyanggupi untuk menjemput kami dan akan segera bergegas ke Tangkuban Perahu menyusul kami. 

Mendengar ini kami langsung sejenak serasa bisa bernafas dengan normal lagi, otot-otot saraf kami seolah sudah tidak menegang lagi.. Langsung kami dengan bangga dan agak sedikit congkak mungkin ya kami berkata "Maaf mas kami tidak usah ditunggu". Saat itu juga kami langsung memutus hubungan mata rantai yang nyaris mencekik leher kami dengan moda dan sang kenek. Setelah kami membayar total Rp. 210.000-, kami bergegas turun dan berjalan rasanya ingin sekali kami berteriak dan mengadu pada langit yang kala itu biru dan sangat cerah. What the day ? Oh..God. Kami nampaknya baru saja termakan bujuk rayu janji manis sang calo. 

Sebagai luapan atas kejadian ini kami pun bertekad untuk tidak menyianyiakan nominal yang sudah kami keluarkan dengan berkeliling hingga ke ujung, seperti yang sering dilakukan Jokowi kami blusukan ke kawasan hutan belantara dan berusaha mencari ruang yang sepi dari spot dimana pengunjung biasanya ramai berkumpul. Sesekali sambil menunggu teman kami Kiki datang, kami pun menghabiskan waktu dengan duduk-duduk santai sambil menikmati sisa harta karun yang tersisa di ransel kami. Aneka biskuit dan kerupuk gurilem pun perlahan hanya menyisakan bungkusnya saja yang siap kami lempar ke tong sampah saat itu juga.

Disambut awan cerah..bahagianya

Hingga akhirnya kira-kira pukul 13.00 siang Kiki akhirnya tiba. Yihaaa…bisa dipastikan kami belum pernah sebahagia ini melihat sosok yang kami tunggu-tunggu berjalan ke arah kami. Sontak kami langsung riang gembira bak seorang anak kecil yang diberi aromanis di pasar malam. Kami pun menghampiri dan menepuk-nepuknya dengan bangga dan riang sekali. 

Butuh waktu yang cukup lama untuk ia bisa sampai kesini karena memang kondisi jalan padat macet bertepatan dengan hari libur Waisyak hari ini. Banyak pengunjung berplat luar kota memadati jalanan di ruas kota yang begitu banyak menawarkan magnet untuk sejenak menjauh menikmati aneka kuliner,  objek wisata dan factory outlet 

Kami berempat sempatkan berjalan-jalan sebentar ke spot yang belum kami bertiga jamahi sebelumnya. Saat kami akan berjalan ke spot menaiki tangga ke yang lebih puncak tiba-tiba hujan deras turun mengguyur kami para pengunjung. Seketika kami pun berhamburan berlari mencari tempat untuk berlindung. Kami berlindung di warung yang tak jauh dari tempat kami tadi berjalan. Hujan semakin deras membuat pakaian dan tas kami agak sedikit basah. Hal ini nampaknya tidak bisa membuat kami hanya diam bak patung pancoran menunggu begitu saja. Kami bergegas menggunakan jasa sewa payung yang dijajakan oleh banyak pemuda di depan kami menuju ke area parkiran. Setelah kami masuk kedalam mobil dan merasakan empuknya kursi dengan menawarkan berbagai paket kenyamanan lainnya. Kami sangat lega dan bisa menyandarkan punggung dengan sangat nyaman. Dan tak usah risau lagi memikirkan bagaimana bisa keluar dari tempat ini.
 


Mobil yang dikemudikan teman kami Kiki pun melaju turun menjauh dari areal kawasan hutan Cikole. Satu yang pasti saat ini kami hanya ingin melihat pesona kota dengan lampu-lampu yang memancarkan cahayanya dan mengisi perut kami yang sedari tadi belum diisi makan pagi dan siang. Sekian cerita perjalanan kami.

Sempat kami berpikir ingin menyimpan cerita kami ini hanya untuk kami berempat saja. Namun, saya ingin berbagi dengan teman-teman sekalian agar bisa sama-sama mengambil pelajaran dan hikmah dibalik perjalanan kami yaitu alokasikan dana lebih jika plan awal tidak berjalan mulus. Selain itu tanyalah lebih detail mengenai tawaran yang diajukan oleh calo yang kita temui.
Sisa harta karun tuk menemani Hero datang

Mati gaya ... berpose dengan andalan masing-masing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencicipi pesona Bumi Nusantara [Edisi Bromo dan Waterfall Madakaripura 2]

Ketika sebagian besar orang bilang bahwa saat matahari terbit adalah waktu yang pas untuk memulai perjalanan. Ya..kami sependapat dengan ini. Masing-masing dari kami ketika akan mulai merencanakan, ketika kami akan bersiap tidur di malam hari, ketika kami bergegas bangun dari tempat tidur, dan ketika kami berpamitan melangkahkan kaki untuk sejenak pergi meninggalkan semua kebiasaan yang biasa kami lakukan. Semangat langkah kaki dan dada ini tidak biasa, kami meyakini akan ada sesuatu yang besar yang akan kita raih...ya kami punya mimpi. Dan mimpi ini yang akan kita wujudkan.  5 sabahat tersenyum siap menjemput mimpi Terminal, stasiun, bandara, adalah sebagian tempat yang serupa untuk singgah, mengukir cerita dan dimana ada yang datang dan ada yang pergi. Stasiun di kota Bandung ini adalah saksi langkah awal perjalanan kami. Kami membuat janji untuk bertemu disini dan mengawali mimpi kami. Satu per satu dari kami pun tiba dengan langkah yang walaupun sedikit gontai karena p...

Berburu senja di Negeri Laskar Pelangi

Tepat satu minggu kemarin dapat landscape ini. Gambar ini menjadi moment berharga saya bersama kedua teman saya kala itu. Cuaca yang sulit ditebak, sedari pagi hingga siang hujan menghiasi kota Belitung. Hujan deras sempurna melumpuhkan sejenak rencana kami menuju destinasi yang sudah kami rancang di hari kedua. Harapan kami untuk bisa menikmati sunrise di kota Laskar Pelangi harus tertunda. Rona langit kala itu sedikit mengacaukan semangat kami. Baru di siang hari matahari mulai menampakkan teriknya. Langit biru, awan putih, kami bersorak kecil, senyum kecil tersungging dari bibir kami. Harapan dan semangat kami melanjutkan destinasi yang sempat tertunda tadi mulai tumbuh. Kami banyak menghabiskan waktu siang kami bermain di Pantai Tanjung Lesung. Kami urungkan niat kami untuk menyebrang ke Pulau Lengkuas dikarenakan personil kami hanya tiga orang dan juga waktu yang tidak memungkinkan.  Setelah kami puas bermain-main dibawah terik matahari di Pantai Tanjung Lesung kami bergegas...

Setiap detik ..

“...karena setiap detik yang berlalu adalah kenangan, jangan pernah meremehkan hal-hal kecil yang menyapamu.” Ada ungkapan yang mengatakan bahwa dia yang bahagia di dunia ini ialah ia yang pandai menemukan hal-hal kecil untuk berbahagia. Mengapa hal-hal kecil? Hal-hal kecil yang seperti apa? Bagaimana cara menemukannya? Sederet pertanyaan pun muncul. Kenapa dengan hal-hal kecil tersebut? Justru karena kecil sebagian dari kita melupakannya. Kita kadang melupakan bahwa sesuatu yang besar tumbuh dari sesuatu yang kecil. Disini saya akan berbagi cara sederhana menemukan dan menikmati kebahagiaan saya. Seperti yang kita ketahui dan rasakan bahwa rutinitas terkadang membelenggu kita untuk keluar dari zona nyaman. Terkadang juga padatnya rutinitas menjadi satu alasan kuat yang membatasi kita tidak bisa melakukan ini dan itu. Sebagai kaum urban masa kini yang disibukkan dengan pekerjaan dan terikat jam kantor. Terbitnya sang matahari hingga matahari tersebut pergi berganti tugas dengan sang ...