Saat sebagian orang di
belahan bumi ini menikmati libur kejepit hari ini mungkin dengan beristirahat
seharian di rumah berkumpul bersama keluarga tercinta dan menikmati sejenak
ketenangan menyepi dari rutinitas biasanya. Namun, kami yakni saya, Allisya dan
Tita ingin menikmati suasana liburan dalam
cerita yang berbeda. Kami sudah bersepakat jauh-jauh hari untuk mengisi hari
ini bersama-sama. Pilihannya jatuh untuk melakukan aktifitas hiking ke salah satu objek wisata yang
tidak jauh dari kota Cimahi yaitu Curug Cimahi.
Diiringi terbitnya sang fajar dari ufuk timur saya berangkat dari rumah menuju meeting point bersama teman saya Tita. Tepat pukul setengah enam pagi dengan langit dan udara yang seolah-olah menawarkan keredupannya dan dinginnya membuat ingin kembali bergelung dengan selimut dan bantal dirumah. Namun ini tidak menyurutkan langkah kami untuk menuju meeting point selanjutnya bertemu dengan teman kami satu lagi yakni Allisya.
Setelah kami bertemu
dan menyapa hangat. Kira-kira pukul enam tepat kami bergegas naik angkutan kota
warna ungu jurusan Cimahi-Parongpong. Si kuda besi beroda empat ini siap
membelah jalur sempit pedesaan dengan disuguhi aneka hijaunya sayur-mayur segar
yang ditumbuh di areal ladang warga masyarakat sekitar. Di dalam angkot
kami ngobrol-ngobrol ringan tentang apa yang akan dilakukan nanti mengenai ini
dan itu. Kami sangat antusias dengan aktifitas perjalanan yang akan kami tempuh
nanti. Tak sengaja kami pun sempat membeli makanan ringan yang kebetulan sedang
dibawa oleh pedagangnya yang seangkot dengan kami yakni kerupuk gurilem. Kerupuk gurilem adalah makanan atau cemilan ringan sejenis
kerupuk yang berbentuk silinder atau silindris yang dibumbui dengan penyedap
rasa lainnya seperti vetsin, serbuk cabe rawit kering, garam, merica, bawang
goreng dan lain-lain. Konon katanya penganan ini berasal dari daerah Cililin Kab.
Bandung. Paduan rasa pedas, gurih dan asin membuat lidah tak mau berhenti
mengecapnya.
Tiga puluh lima menit berlalu kami bergegas turun tepat di depan kampus Advent. Ongkos untuk per orang yakni Rp. 4.000-,. Setelahnya kami berjalan meninggalkan halaman kampus Advent menyusuri tepian jalan raya parongpong. Dikarenakan jalan yang tak terlalu lebar dan tidak ada zebra cross maka kami berjalan berbaris sendiri-sendiri menyusuri bahu jalan yang terkadang mepet dengan sungai yang mengalir deras dibawahnya, lembah curam dan bukit-bukit kecil dengan bunyi-bunyi satwa khas penghuni hutan dan semak belukar. Beruntung karena masih pagi kami bisa menikmati udara yang sejuk dan jalanan yang masih relatif lengang.
Setelah kami berjalan kira-kira 20 menit tibalah kami di pintu gerbang objek wisata Curug Cimahi. Suasana disekitar masih sangat lengang. Nyaris pertama bagi kami, ada selebaran yang ditempel di pintu gerbang bertuliskan "Maaf untuk sementara kami sedang tidak menerima pengunjung". Dengan adanya saya masih merasa penasaran dan tidak yakin atas pengumuman itu.
![]() |
| Diangkot menuju Lembang |
Lalu saya mencoba berniat
bertanya kepada orang sekitar di warung dan didapat informasi bahwa objek wisata
tersebut sudah tidak beroperasi lagi kira-kira 2 bulan lamanya. Hal ini
dikarenakan sempat ada kecelekaan yang menimpa pengunjung. Yaitu ada batu besar
yang jatuh menimpa pengunjung sehingga mengalami luka yang cukup serius.
Mendengar ini kami hanya bisa mengelus dada sekaligus menahan rasa kecewa kami.
Kami sempatkan untuk duduk-duduk setelah hiking
kecil-kecilan di depan gerbang menyaksikan monyet-monyet kecil yang asyik
bermain bergelantungan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya sambil sedikit
brainstorming kemanakah langkah kami
selanjutnya.
Dikarenakan ternyata dua teman saya belum pernah ke objek wisata Tangkuban Perahu, kami memutuskan untuk mengunjungi kawasan wisata tersebut yang terletak di areal hutan Cikole. Kami pun bergegas mencari angkutan kota yang akan membawa kami ke tujuan berikutnya. Angkot tua pedesaan bercat kuning dengan pintu keluar masuk penumpang ada di belakang membawa kami hingga ke terminal Lembang. Ongkos yang harus kami keluarkan per orang yakni Rp. 5.000-,.
![]() |
| Say cheerss ditengah-tengah perjalanan .. |
Sebelum kami
melanjutkan berpindah ke angkutan kota jurusan Cikole. Kami sempatkan
berkunjung sekaligus menumpang buang air kecil ke rumah salah satu rekan kantor
kami yang saya ingat ia tinggal tak jauh dari sekitar sini yaitu Ridho. Tiba
dirumahnya ia sempat kaget pagi buta sudah disambangi tiga gadis-gadis yang
menawan dan memesona ini. *(Hee..boleh tunjuk tangan bagi yang tidak setuju
dengan kalimat yang barusan).Ridho sedang bermain mengasuh anak perempuannya
yang lucu berusia 5 bulan. Setelah dirasa cukup kami lekas pamit untuk
melanjutkan perjalanan.
Tak jauh kami berjalan menuju tempat pemberhentian angkutan kota Cikole. Kami
ditawari oleh calo yang menghampiri kami. Entah apa yang membuat para calo-calo
ini seolah bisa menebak kemana kami akan pergi. Apakah kami terlihat seperti
turis domestik. Mungkin dengan setelan pakaian yang kami gunakan yakni sepatu
kets dan ransel dipunggung. Sudah bisa menandakan bahwa kami adalah pendatang.
"Ayo..ayo Neng..Neng bade kamana. Tangkuban Perahu neng Rp.17.000-, dugi
ka puncakna neng". Sekaliu lagi seolah bisa membaca pikiran kami calo itu
tetap saja mengekor langkah kami. Akhirnya kami termakan bujuk rayu si calo
tersebut. Namun bisa kami tawar menjadi Rp.15.000-, per orang, jadi total untuk
3 orang adalah Rp. 45.000-,. Lalu ia menggiring kami ke angkot yang akan
membawa kami ke tempat yang seperti dijanjikannya tadi. Setelah beberapa saat
angkot tersebut maju kami baru menyadari ternyata ia tidak menarik muatan lagi
dan lajunya agak sedikit ngebut. Hm..ternyata mungkin ini adalah sistem travel
atau carter. Selain supir yang sedang mengemudi ada juga keneknya yang
bergelantungan di pintu. Menjelang akan memasuki kawasan pintu gerbang objek
wisata sang kenek masuk dan ikut duduk guna meminta bayaran ongkos kami.
"Neng punteun ongkosna heula. Rp. 85.000-, per orang". Sontak kita
terkaget dengan tarikan nominal sebesar itu.
Entah pembelaan apa
yang akan kami lontarkan atas hal tersebut. Bagai disambar petir di siang
bolong. Lalu kami pun melakukan sedikit jurus negosiasi kami. Setelah
berlangsung tawar menawar yang cukup alot didapat harga Rp. 55.000-, per orang.
Belum ditambah dengan Rp.17.000-, per orang untuk biaya karcis masuk objek
wisata. Kami sudah pasrah dan
merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu untuk sampai tiba
melihat puncak kawah yang dijanjikan tadi. Dalam suasana menelan kekecewaan
kami sambil berpikir keras bagaimana caranya kami bisa keluar dari objek wisata
ini. Untuk kembali turun pulang pun kami masih harus membayar ongkos yang sama
ketika kami diantar naik yakni Rp. 55.000-, tadi sampai terminal Lembang.
Entah apa yang
terlintas dengan budget kami yang
minim tidak lebih dari Rp. 100.000-, per orang yang ada di dompet kami. Entah
magnet apa yang memicu kami untuk menghubungi seorang teman kami. Langsung saat
itu juga dengan mencari celah sinyal yang susah didapat karena kami sudah
berada di kawasan hutan belantara mendial
nomor teman kami yang bernama Kiki. Ia adalah rekan sepermainan sekaligus rekan
kantor kami juga. Kami ceritakan kejadian sebelumnya. Dan kami intinya hanya
ingin bawa kami keluar dari sini. Dengan suara yang masih lemas karena kami
membangunkan ia yang tengah tertidur pulas. Ia menyanggupi untuk menjemput kami
dan akan segera bergegas ke Tangkuban Perahu menyusul kami.
Mendengar ini kami
langsung sejenak serasa bisa bernafas dengan normal lagi, otot-otot saraf kami
seolah sudah tidak menegang lagi.. Langsung kami dengan bangga dan agak sedikit
congkak mungkin ya kami berkata "Maaf mas kami tidak usah ditunggu".
Saat itu juga kami langsung memutus hubungan mata rantai yang nyaris mencekik
leher kami dengan moda dan sang kenek. Setelah kami membayar total Rp.
210.000-, kami bergegas turun dan berjalan rasanya ingin sekali kami berteriak
dan mengadu pada langit yang kala itu biru dan sangat cerah. What the day ? Oh..God. Kami nampaknya
baru saja termakan bujuk rayu janji manis sang calo.
Sebagai luapan atas kejadian ini kami pun bertekad untuk tidak menyianyiakan nominal yang sudah kami keluarkan dengan berkeliling hingga ke ujung, seperti yang sering dilakukan Jokowi kami blusukan ke kawasan hutan belantara dan berusaha mencari ruang yang sepi dari spot dimana pengunjung biasanya ramai berkumpul. Sesekali sambil menunggu teman kami Kiki datang, kami pun menghabiskan waktu dengan duduk-duduk santai sambil menikmati sisa harta karun yang tersisa di ransel kami. Aneka biskuit dan kerupuk gurilem pun perlahan hanya menyisakan bungkusnya saja yang siap kami lempar ke tong sampah saat itu juga.
![]() |
| Disambut awan cerah..bahagianya |
Hingga akhirnya kira-kira pukul 13.00 siang Kiki akhirnya tiba. Yihaaa…bisa dipastikan kami belum pernah sebahagia ini melihat sosok yang kami tunggu-tunggu berjalan ke arah kami. Sontak kami langsung riang gembira bak seorang anak kecil yang diberi aromanis di pasar malam. Kami pun menghampiri dan menepuk-nepuknya dengan bangga dan riang sekali.
Butuh waktu yang cukup
lama untuk ia bisa sampai kesini karena memang kondisi jalan padat macet
bertepatan dengan hari libur Waisyak hari ini. Banyak pengunjung berplat luar
kota memadati jalanan di ruas kota yang begitu banyak menawarkan magnet untuk
sejenak menjauh menikmati aneka kuliner, objek wisata dan factory outlet.
Kami berempat sempatkan berjalan-jalan sebentar ke spot yang belum kami bertiga jamahi sebelumnya. Saat kami akan berjalan ke spot menaiki tangga ke yang lebih puncak tiba-tiba hujan deras turun mengguyur kami para pengunjung. Seketika kami pun berhamburan berlari mencari tempat untuk berlindung. Kami berlindung di warung yang tak jauh dari tempat kami tadi berjalan. Hujan semakin deras membuat pakaian dan tas kami agak sedikit basah. Hal ini nampaknya tidak bisa membuat kami hanya diam bak patung pancoran menunggu begitu saja. Kami bergegas menggunakan jasa sewa payung yang dijajakan oleh banyak pemuda di depan kami menuju ke area parkiran. Setelah kami masuk kedalam mobil dan merasakan empuknya kursi dengan menawarkan berbagai paket kenyamanan lainnya. Kami sangat lega dan bisa menyandarkan punggung dengan sangat nyaman. Dan tak usah risau lagi memikirkan bagaimana bisa keluar dari tempat ini.
Mobil yang dikemudikan teman kami Kiki pun melaju turun menjauh dari areal
kawasan hutan Cikole. Satu yang pasti saat ini kami hanya ingin melihat pesona
kota dengan lampu-lampu yang memancarkan cahayanya dan mengisi perut kami yang
sedari tadi belum diisi makan pagi dan siang. Sekian cerita perjalanan kami.
Sempat kami berpikir
ingin menyimpan cerita kami ini hanya untuk kami berempat saja. Namun, saya
ingin berbagi dengan teman-teman sekalian agar bisa sama-sama mengambil pelajaran
dan hikmah dibalik perjalanan kami yaitu alokasikan dana lebih jika plan awal tidak berjalan mulus. Selain
itu tanyalah lebih detail mengenai tawaran yang diajukan oleh calo yang kita
temui.
![]() |
| Sisa harta karun tuk menemani Hero datang |
![]() |
| Mati gaya ... berpose dengan andalan masing-masing |







Komentar
Posting Komentar