Langsung ke konten utama

Berbagi kasih kepada si pemilik usia senja




Selamat menjalankan ibadah puasa dan mohon maaf lahir bathin..
Mungkin dibelahan bumi lain disana banyak orang tua yang mempunyai kesempatan untuk mendampingi dan melihat anak-anaknya tumbuh dewasa hingga mencapai kesuksesan dalam meraih cita-citanya. Tapi, tidak bagi beberapa nenek yang saya temui pagi ini di sebuah panti jompo yang jika dikatakan layak untuk dihuni ini bisa dikatakan sangat jauh dari kata layak. Bangunan rumah tua, kusen-kusen kayu juga yang sudah berusia tua seperti para penghuninya yang berlindung dibawah atap ini. Dinding yang masih bilik serta triplek pun terlihat kusam dan renta. Atap yang bocor pun siap menganga memberikan ruang bagi air yang jatuh turun ke bumi membasahi lantai. Rumah ini terdiri dari lima kamar. Masing-masing kamar dihuni oleh satu orang. Bahkan ada kamar di bagian depan yang dihuni oleh dua orang. Dengan ranjang yang tidak begitu kokoh dan kasur yang empuk seadanya. Pemandangan tumpukan baju yang berserakan menjadikan semakin kumuh dan sumpek. Para nenek yang tinggal disini berjumlah lima orang. Dengan berbagai macam latar belakang kehidupan yang akhirnya membawa mereka tinggal didalam satu atap dibawah bimbingan dan asuhan yang saya kenal dengan panggilan Ibu Haji Siti. Bu Haji sapaan hangat saya, beliau orang yang sangat luar biasa dan berhati mulia. Sebenarnya menurut beliau ada 35 orang binaannya yakni terdiri dari 5 orang binaan nenek yang tinggal tetap dirumah sederhana tadi dan 30 orang lainnya adalah para kaum dhuafa yang tinggal tidak jauh dari pemukiman tersebut. Dimana mereka hidup dibawah garis kemiskinan.
Sebelumnya saya berterimakasih kepada seorang sahabat saya yang memberikan informasi mengenai keberadaan panti jompo ini. Yang menurut penuturannya adalah jauh darai kata layak huni. Satu dan lain alasan memang saya kebetulan ditugaskan dari tempat dimana saya bekerja untuk mencari panti jompo atau panti asuhan yang kurang terjangkau banyak orang. Setelah saya mendapat informasi dari sahabat saya tadi. Saya melakukan survey pagi itu pada hari Sabtu tanggal 19 Juli 2014. 

Perasaan saya ketika saya melihat keadaan panti tersebut secara langsung hati saya bergetar. Miris melihat lingkungan tempat tinggal di area pemukiman yang kumuh dan mungkin agak lembap. Kondisi bangunan yang sudah dimakan usia. Ya..seolah bangunannya pun tak mau kalah berlomba unjuk gigi siapa yang paling tua.
Dari kunjungan saya ini saya ada sedikit percakapan dengan salah seorang nenek yang menurut penuturannnya ketika saya bertanya ia berasal dari kota Jember, Jawa Timur. Panjang lebar nenek ini bercerita mungkin jika dituliskan dalam sebuah buku tidak akan cukup mewakili drama dan kisah kehidupan yang telah dilaluinya. Ditambah dengan kefasihan saya sedikit yang masih bisa berbahasa Jawa menjadikan percakapan kami menjadi lancar mengalir bahkan cenderung satu arah. Dan saya hanya bisa berkomentar pendek dan cukup menyediakan telinga saya lebar-lebar mendengarkan dengan seksama.
Berikut adalah kisah nenek yang akan coba saya ceritakan. 

“Kisah kelamnya dimulai saat suami tercintanya dipanggil oleh Sang Khalik. Menurut penuturannya ia mempunya 15 orang anak. Wow…! Beranjak dewasa anak-anaknya satu persatu mulai pergi mengejar cita-citanya masing-masing. Singkat cerita ia setelah ia berusaha bertahan dan berjuang keras membanting tulang kesana kemari hingga mengadu nasib pindah dari kota kecilnya ke kota Surabaya. Namun, apa daya kehidupan ekonominya pun kian sulit. Kepedulian dari anak-anaknya pun kian memudar. Kesempatan sang nenek untuk bisa melihat cucu-cucunya tumbuh dewasa pun sirna sudah hanya tinggal kenangan dan asa yang tak pernah ia cicipi di penghujung usia senjanya.”

Memorable dan unforgotabble

Sedih dan tragis bukan….? 

Saya akan mencoba menuliskan hikmah atas kisah diatas.
“ Mungkin disaat kita memasuki usia senja nanti, kadang kita hanya butuh waktu sedikit saja dari sekian banyak kesibukan kita sebagai anak dan cucunya. Seiring usianya yang sudah memasuki 60 tahun-an begitu banyak cerita dan nenek ini ingin mendongeng.”

Quote :
“Kebersamaan dan kesediaan untuk mendengarkan adalah rahasia kecil senyum bahagia mereka” 


Berikut adalah beberapa gambar yang coba saya ambil.

Kondisi ranjang yang jauh dari nyaman dan empuk untuk menyangga punggung yang hanya tinggal tulang.

Alat bantu berjalan

Aneka peralatan rumah tangga yang sangat sederhana

Kondisi dinding dari tripleks yang sudah dimakan usia..usang
Berfoto di depan rumah yang menjadi atap mereka
Pemandangan kamar yang dihuni oleh dua orang nenek..begitu menyedihkan
Berfoto bersama teman-teman di sore hari menjelang waktu berbuka puasa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencicipi pesona Bumi Nusantara [Edisi Bromo dan Waterfall Madakaripura 2]

Ketika sebagian besar orang bilang bahwa saat matahari terbit adalah waktu yang pas untuk memulai perjalanan. Ya..kami sependapat dengan ini. Masing-masing dari kami ketika akan mulai merencanakan, ketika kami akan bersiap tidur di malam hari, ketika kami bergegas bangun dari tempat tidur, dan ketika kami berpamitan melangkahkan kaki untuk sejenak pergi meninggalkan semua kebiasaan yang biasa kami lakukan. Semangat langkah kaki dan dada ini tidak biasa, kami meyakini akan ada sesuatu yang besar yang akan kita raih...ya kami punya mimpi. Dan mimpi ini yang akan kita wujudkan.  5 sabahat tersenyum siap menjemput mimpi Terminal, stasiun, bandara, adalah sebagian tempat yang serupa untuk singgah, mengukir cerita dan dimana ada yang datang dan ada yang pergi. Stasiun di kota Bandung ini adalah saksi langkah awal perjalanan kami. Kami membuat janji untuk bertemu disini dan mengawali mimpi kami. Satu per satu dari kami pun tiba dengan langkah yang walaupun sedikit gontai karena p...

Berburu senja di Negeri Laskar Pelangi

Tepat satu minggu kemarin dapat landscape ini. Gambar ini menjadi moment berharga saya bersama kedua teman saya kala itu. Cuaca yang sulit ditebak, sedari pagi hingga siang hujan menghiasi kota Belitung. Hujan deras sempurna melumpuhkan sejenak rencana kami menuju destinasi yang sudah kami rancang di hari kedua. Harapan kami untuk bisa menikmati sunrise di kota Laskar Pelangi harus tertunda. Rona langit kala itu sedikit mengacaukan semangat kami. Baru di siang hari matahari mulai menampakkan teriknya. Langit biru, awan putih, kami bersorak kecil, senyum kecil tersungging dari bibir kami. Harapan dan semangat kami melanjutkan destinasi yang sempat tertunda tadi mulai tumbuh. Kami banyak menghabiskan waktu siang kami bermain di Pantai Tanjung Lesung. Kami urungkan niat kami untuk menyebrang ke Pulau Lengkuas dikarenakan personil kami hanya tiga orang dan juga waktu yang tidak memungkinkan.  Setelah kami puas bermain-main dibawah terik matahari di Pantai Tanjung Lesung kami bergegas...

Soreku semanis es krim

Soreku semanis kamu es krim..iya kamuuu Bosan saat weekend tiba diam di rumah. Namun, ketika akan bepergian pun serada enggan pula dikarenakan jalanan yang macet. Berangkat dari kebiasaan saat weekend anteng dengan tontonan drama romantis korea. Serasa terinspirasi saat bosan dan jenuh melanda.   Yups...tidak ada salahnya kita mencoba mengadopsi kebiasaan dalam drama korea tersebut. Konon katanya "ada saatnya sesuatu yang manis itu dibutuhkan" untuk menambah suasana menjadi manis dan tambah menyenangkan. Nah, menurut berbagai penelitian dan hasil penelurusan singkat rasa penasaran saya di dunia maya. Bahwa diantaranya coklat dan es krim mampu memberi ketenangan dan rasa rileks. Ada kandungan theobromine yang bersifat vasolidator , yakni menyebabkan pelebaran pembuluh darah. Imbasnya, otot yang tegang menjadi rileks, dan jantung yang semula "lesu" pun menjadi giat dan aktif kembali. Kondisi ini membuat suasana hati menjadi riang. ...