Langsung ke konten utama

Pray for Ibu Pertiwi


Ibu pertiwi sedang bersusah hati...akankan kita tega membiarkan ia menangis terus menerus..?

Pesta demokrasi 9 Juli kemarin akan menjadi sejarah bagi bangsa ini kelak. Alhamdullilah berlangsung lancar dan kondusif. Ini juga berkat banyak pihak yang ikut berkomitmen menjaga dan melakukan berbagai tindakan-tindakan preventif. Pemilu kali ini rakyat negeri ini disuguhkan dengan hanya 2 kandidat saja yakni nomor urut 1 Prabowo Hatta dan nomor urut 2 Jokowi JK. Tentunya dua pasangan ini punya visi misi dan tekad yang besar dalam membangun negeri ini. Setelah kita melihat acara debat-debat yang ditayangkan pada masa kampanye. Kedua pasangan menyatakan statement bahwa akan menerima dan menghormati perolehan suara nanti dan menghormati siapa yang terpilih. 

Di lain sisi, pemilu kali ini nampaknya banyak sekali menyita anemo masyarakat turut berpartisipasi dan membela kandidat yang diunggulkannya masing-masing. Adanya media sosial dan media-media lainnya ini menambah atmosfer kedua kubu semakin panas dan seru. 

Nah, usai election day rampung, saatnya mengetahui hasil perolehan suara. Ini yang dikhawatirkan dari banyak pihak. Kini diperoleh suara sementara sangat tipis perbedaannya. Hanya terpaut sekitar dibawah 10% saja. Masing-masing mengklaim kubunya menang. Ditambah lagi dengan banyaknya lembaga survey yang mengeluarkan hasil quick qount mereka yang berbeda-beda tipis memenangkan no urut 1 dan 2. Padahal hasil resminya baru akan diumumkan oleh KPU nanti tanggal 22 Juli 2014. Namun, apa yang terjadi pagi ini saya melihat berita bahwa kantor salah satu lembaga survey yang memenangkan salah satu pasangan capres dilempari bom molotov oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 

Di head lines lainnya menyinggung banyaknya pihak yang saling mengeluarkan statement dan prasangka negatif kepada pihak lawan. Yang berbuntut saling lapor, saling usut, saling curiga. Ini adalah bentuk ketidakpuasan. Entah ketidakpuasan seperti apa yang dimaksud. Hmm...lalu apa yang akan terjadi nanti usai KPU mengeluarkan hasilnya. Pasti akan hanya ada satu pemenangnya. Saya percaya dengan statement-statement yang dikeluarkan masing-masing capres bahwa mereka akan menerima dan menghormati hasilnya kelak. Dan memohon agar pendukung atau simpatisan mereka pun menjaga etika dan attitude tidak melakukan tindakan represif yang memicu pertumpahan darah dan memecah persatuan serta kedaulatan negeri ini. 

Hm..seandainya lorong waktu itu benar-benar tercipta rasanya ingin masuk ke perut bumi atau terbang ke planet lain. Dan untuk sementara tidak mau melihat tayangan berita yang isinya mayoritas hanya mengupas panasnya suhu politik di negeri ini. Saling lempar prasangka negatif dan statement-statement yang sensitif. Disamping entah stasiun-stasiun televisi dan media-media lainnya milik siapa berkubu kepada siapaa...bukankah seharusnya mereka netral. Dan jika seandainya benar-benar ibu pertiwi itu ada pasti ia sekarang sedang lara dan bersusah hati melihat anaknya yang tersebar di seluruh negeri ini sedang terpecah belah. Iya..memang kehidupan ini adalah pilihan. Kerikil ataupun batu sandungan akan selalu ada dalam setiap fase kehidupan. Tugas kita adalah harus mempunyai jiwa yang optimis akan besarnya dan indahnya kerukunan bangsa ini tidak pernah lepas sebagai aset.

Tulisan ini hanya bentuk kekhawatiran dan sedikit kekecewaan dari seorang anak biasa di negeri ini yang merindukan kedamaian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencicipi pesona Bumi Nusantara [Edisi Bromo dan Waterfall Madakaripura 2]

Ketika sebagian besar orang bilang bahwa saat matahari terbit adalah waktu yang pas untuk memulai perjalanan. Ya..kami sependapat dengan ini. Masing-masing dari kami ketika akan mulai merencanakan, ketika kami akan bersiap tidur di malam hari, ketika kami bergegas bangun dari tempat tidur, dan ketika kami berpamitan melangkahkan kaki untuk sejenak pergi meninggalkan semua kebiasaan yang biasa kami lakukan. Semangat langkah kaki dan dada ini tidak biasa, kami meyakini akan ada sesuatu yang besar yang akan kita raih...ya kami punya mimpi. Dan mimpi ini yang akan kita wujudkan.  5 sabahat tersenyum siap menjemput mimpi Terminal, stasiun, bandara, adalah sebagian tempat yang serupa untuk singgah, mengukir cerita dan dimana ada yang datang dan ada yang pergi. Stasiun di kota Bandung ini adalah saksi langkah awal perjalanan kami. Kami membuat janji untuk bertemu disini dan mengawali mimpi kami. Satu per satu dari kami pun tiba dengan langkah yang walaupun sedikit gontai karena p...

Berburu senja di Negeri Laskar Pelangi

Tepat satu minggu kemarin dapat landscape ini. Gambar ini menjadi moment berharga saya bersama kedua teman saya kala itu. Cuaca yang sulit ditebak, sedari pagi hingga siang hujan menghiasi kota Belitung. Hujan deras sempurna melumpuhkan sejenak rencana kami menuju destinasi yang sudah kami rancang di hari kedua. Harapan kami untuk bisa menikmati sunrise di kota Laskar Pelangi harus tertunda. Rona langit kala itu sedikit mengacaukan semangat kami. Baru di siang hari matahari mulai menampakkan teriknya. Langit biru, awan putih, kami bersorak kecil, senyum kecil tersungging dari bibir kami. Harapan dan semangat kami melanjutkan destinasi yang sempat tertunda tadi mulai tumbuh. Kami banyak menghabiskan waktu siang kami bermain di Pantai Tanjung Lesung. Kami urungkan niat kami untuk menyebrang ke Pulau Lengkuas dikarenakan personil kami hanya tiga orang dan juga waktu yang tidak memungkinkan.  Setelah kami puas bermain-main dibawah terik matahari di Pantai Tanjung Lesung kami bergegas...

Kebersamaan kami mencicipi secuil pesona Kota Batu dan Malang

Berfoto dulu di dalam kereta..cheerss Kamis ini bukan hari Kamis yang akan kami lewatkan begitu saja seperti biasa bagi kami. Karena, kami hanya akan menghabiskan rutinitas efektif kami sebagai pekerja kantoran yakni empat hari saja. Ya, bukan lagi hari Jum'at yang akrab dengan penghujung weekday tapi Kamis lah kini yang menjadi penghujungnya. Sekali lagi Kamis ini menjadi hari yang punya cerita semangat berbeda di saat pagi menjelang. Berbagai impian, persepsi dan khayalan kami bungkus dalam satu semangat untuk menengok sisi lain cerita dan mencuri secuil remahan dari banyaknya pesona keindahan bumi nusantara ini. Sorot matahari yang kala itu bersinar cukup terik tidak menyurutkan langkah kami bergegas menuju angkutan kota yang sudah kami booking untuk membawa kami menuju stasiun Bandung.  Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kami tiba di stasiun. Kami bergegas menuju pintu masuk untuk sedikit proses pengecekan tiket. Usai pengecekan selesai, kami deng...