Langsung ke konten utama

2D1N Rp. 450.000 start From Bandung Explore Surga Tersembunyi Gunung Kidul dan Magelang



Konon bumi ini milik mereka yang mau berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanan. Saya, Shenny, Sona dan Eka hanya segelintir anak manusia yang ingin belajar dari arti sebuah perjalanan. Perjalanan yang memberikan warna dan kesan yang berbeda dan berguna bagi kami pribadi sebagai nahkoda dari sebuah perahu yang dinamakan kehidupan.
Perjalanan ini sudah kami rencanakan dua minggu sebelum keberangkatan. Saya sebagai iniators bertanggung jawab penuh atas schedule, rasa aman, nyaman dan yang paling berat adalah menjaga ekspektasi teman-teman saya yang sudah begitu tinggi atas suguhan kejutan yang akan saya hadiahkan kepada mereka. Sebagai kejutan saya tidak memberitahu persis detail destinasi yang akan dikunjungi. Sebagai initiators, saya mulai melakukan booking tiket keberangkatan dan pulang, reservasi penginapan, informasi seputar destinasi-destinasi yang akan kami kunjungi dan booking sewa mobil beserta driver yang akan memandu dan membawa kami ke tujuan. Lewat kecanggihan android kini semua bisa diakses dengan mudah.
Jum’at 15 Agustus 2014 pukul 19.30 kami berkumpul di Stasiun Kiaracondong. Pundak yang tak biasa menahan beban sedikit agak berat dari biasanya pun tak menyurutkan langkah kami untuk memulai  perjalanan ini.  Temaram cahaya rembulan yang memayungi Stasiun malam itu menjadi saksi bisu bagi kami saling berjabat tangan memperkenalkan diri dan berpamitan kepada orang tua yang mengantar melepas kepergian kami.
Pukul 20:05 wib suara kencang peluit yang ditiup pertanda KA Ekonomi Kahuripan Jurusan Kiaracondong-Kediri yang membawa kami beserta penumpang lainnnya ke tujuan masing-masing. Sesuai dengan jadwal yang tertera pada tiket kami akan tiba Sabtu dini hari pukul 04:54 di Stasiun Lempuyangan. Selama dalam perjalanan kami memanfaatkan waktu untuk saling mengenal satu sama lain diantara kami, melanjutkan bacaan novel yang sempat tertunda, terkadang pula berbincang dan bertukar cerita ringan dengan penumpang yang sebangku.                                                                                                                                
Pembenahan besar-besaran yang dilakukan pada manajemen perusahaan BUMN ini berdampak positif bagi kami penumpang KA ini. Tingkat keamanan dan kenyamanan pun kini bisa dinikmati oleh kami penumpang KA Ekonomi. Dengan harga yang terjangkau Rp. 50.000,- kami sudah bisa menikmati istirahat dengan nyaman menempuh perjalanan panjang dengan tidak kepanasan karena di kereta ekonomi pun kini sudah ada fasilitas AC nya. Dan kini sudah tidak penuh sesak, sistem tiket kini hanya dijual sesuai dengan jumlah seat yang ada.
Sabtu pagi 16 Agustus 2014 pukul 04:54 kami tiba di Stasiun Lempunyangan. Langit dini hari sudah habis, bersiap sang surya keluar dari persembunyiannya, kemudian pagi. Pertanda baik untuk mengawali hari di kota Istimewa yang tersohor dengan aneka budaya, masyarakat yang ramah-ramah dengan tata krama yang masih dijunjung tinggi, murah senyum dan ditambah keorisinilan budaya Jawa lainnya menjadi nilai plus daya tarik kota ini. 
Pagi menyapa di Stasiun Lempuyangan

Aku biarkan hangatnya matahari pagi menyapu kedua pipiku ..
Sesuai schedule yang sudah kami buat pukul 07:00 driver rental yang kami sewa akan siap mejemput kami di Stasiun Lempuyangan. Waktu luang yang kami punya kami manfaatkan untuk mencari spot tempat duduk untuk mengistirahatkan dan meluruskan kaki. Sebelumnya kami jadwalkan untuk bisa numpang bersih-bersih mandi gratis di toilet. Namun ternyata di toilet stasiun ini tidak diperkenankan untuk mandi. Apa boleh buat, kami hanya bisa melalukan bersih-bersih sedikit, mengganti kostum dan menunaikan ibadah shalat shubuh.
Sabtu, 16 Agustus 2014
07.00 WIB Start to Gunung Kidul
Bunyi pesan diterima di handpone saya menandakan orang yang kami tunggu telah tiba. Berdasarkan petunjuk di layar handphone kami keluar dari gerbang stasiun dan melangkah menyusuri area parker di pinggir sepanjang jalan dekat stasiun. Avanza silver AB 17xx HK terparkir membisu di ujung jalan. Pria kurus baruh baya berjalan mendekat lalu berjabat dengan kami pertanda kami akan saling membutuhkan dan menjalin kerja sama selama dua hari di kota ini.
Bapak yang memiliki tiga putra ini memperkenalkan diri sebagai Teguh Asnawi. Ia yang akan siap memegang kemudi menjelajah pelosok kota hingga ke pesisir. Start pukul 07:00 pagi Avanza silver meluncur dengan pasti. Kami menyempatkan diri mampir menghangatkan perut sarapan salah satu kuliner yang patut dicoba yakni Soto Kadipiro. Setelah dirasa cukup kami mengisi energi kami melanjutkan  perjalanan ke Wonosari daerah Gunung Kidul. Di schedule pada hari pertama kami akan menghabiskan sepanjang hari dengan  menyusuri pantai-pantai yang masih menjadi surga tersembunyi di daerah Gunung Kidul. Destinasi pertama kami menuju pantai diujung yang paling terjauh dari arah jalan pulang.

Suasana jalan menuju Gunung Kidul
09.00 WIB Tiba di Pantai Pok Tunggal
Pertama kami mengunjungi Pantai Pok Tunggal. Akses jalan ke daerah sini belum tersentuh oleh transportasi umum dan semakin mendekat ke pedalaman jalannya masih berbatu. Untuk masuk kesini kita masih bisa menikmatinya secara gratis. Di pintu masuk belum ada pos penjagaan penarikan karcis. Hanya ada sekelompok pemuda dan warga sekitar yang duduk-duduk dan menyapa kendaraan pengunjung. Sewaktu kita tanya berapa biaya masuknya, mereka menjawab dengan sangat sopan dan ramah “sukarela saja pak, silahkan” . Hanya dengan kotak kardus bekas yang menjadi lumbung dana sukarela tersebut.
Pantai Pok Tunggal adalah pantai dengan pasir putih bak hamparan susu bubuk putih yang terdapat di Gunung Kidul. Jika ditempuh dari pusat kota Yogyakarta memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Semakin mendekat menuju pantai jalannya belum cukup mulus, masih tanas dikombinasi dengan bebatuan. Kita akan merasakan tergoyang-goyang dahsyat ketika berada di dalam mobil kira-kira selama 1,5 km saja. Namun, sensasi ini akan terbayar ketika hamparan biru luas tersaji di depan sana. Yes…welcome to heaven. Pohon Duras yang memesona sebagai icon pantai ini siap menyambut kedatangan kami. Pantai ini pantas disebut sebagai surga tersembunyi baru yang kedepannya akan menjadi primadona. Dikanan kiri kita bisa menemukan pemandangan bukit atau tebing yang bisa kita naiki. Ini adalah spot yang menarik untuk melihat pesona pantai ini dari ketinggian. 
Gate to heaven...sepiii...

Hamparan biru yang membisu didepan mata

Private beach

Icon Pantai Pok Tunggal - Pohon Duras

Pantai Pok Tunggal dari atas tebing
 
Stair to heaven ..


It's a paradise ...

Menikmati hembusan angin dari ketinggian ...feel free right ??

Naik ke atas batu karang..



make a hope with sands...

12.00 WIB Tiba di Pantai Sundak
Pantai ini juga tak kalah menawarkan sejuta pesona nya dari pantai Pok Tunggal. Kolaborasi antara pasir putih dan air laut yang tenang membuat daya tarik pantai ini. Pantai Sundak juga memiliki gua dengan sumur mata iar tawar yang menjadi sumber mata air penduduk sekitar. Di pantai ini agak sedikit lebih ramai dan sudah tersentuh warung-warung yang menjajakan dan menyediakan aneka penganan mulai dari indomie rebus, es kelapa dan lainnya. Cocok untuk megisi perut saat melapas penat di pantai. Jika kita beruntung pun kadang kita akan menemui pelancong mancanegara yang berjemur di atas hamparan pasir putih dengan two piece nya. Hee..hee..
Teman-teman jangan coba-coba berenang jauh-jauh sampai ke tengah ya. Karena pantai ini ombaknya cukup besar, dikarenakan lokasinya yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Nah, jika sedang surut di bibir pantai kita juga bisa bermain dan berjalan diatas karang-karang kecil yang bertebaran di sepanjang bibir pantai. Jernihnya air sehingga seolah kita berjalan diatas akuarium.
Pasir putih Pantai Sundak yang memesona...this is paradise
Feel free...sepiiiiiiii

Berasa di akuarium ..


15.00 WIB menuju ke Pantai Baron
Ini adalah destinasi pantai terakhir yang kami schedule kan. Ketika memasuki area parkir pantai ini jauh berbeda dengan dua pantai yang kami kunjungi sebelumnya. Disini sudah lebih ramai, banyak bis dan deretan mobil yang terparkir di parkiran. Memasuki area pantai kita akan disapa oleh puluhan penjaja souvenir, ibu-ibu penjual aneka hidangan laut, dan jajanan-jajanan ringan pengisi perut lainnya seperti bakso, cilok, siomay dan lain-lain. Pertama kali melihat pantai ini sangat menakutkan dari kejauhan. Suara deburan ombak yang sangat besar dan kencang membuat kesan seram buat saya yang notabene tidak bisa berenang. Saya bersama teman-teman merasa sangat beruntung sekali karena pada hari itu sedang diadakan gelada resik perayaan hari kemerdekaan dengan upacara pengibaran bendera di tengah laut oleh para lifeguard pantai ini. Selain itu juga ada deretan pemuda sekolah taruna yang bebaris rapi membuat formasi memainkan alat-alat parade drumband yang ikut memeriahkan acara 17 Agustus. Bulu kuduk kami sempat berdiri saat menyaksikan para lifeguard yang gagah itu mulai berbaris berjalan kearah tengah pantai, ombak pantai yang ganas menggulung namun seolah mereka tidak takut. Rintangan sebesar apapun dihadangnya demi mengibarkan sangsangka merah putih di tengah laut berdiri menjulang gagah di atas tiang ban oranye. Rasa nasionalisme kami tiba-tiba memuncak saat menyaksikan ini di depan mata, kecintaan mereka terhadap bumi tanah air ini begitu besar. Tanpa peduli atau melakukan aksi-aksi anarkis seperti orang-orang yang tidak betanggung jawab lainnya saat Negara ini diwarnai koruptor yang merajelala. Terus berkarya untuk Indonesia ya ..
Cahaya senja menembus ...

Sangsaka merah putih berkibar diatas lautan biru...
Kapal nelayan yang bersandar di tepi pantai ...

17.00 WIB perjalanan kembali ke Yogyakarta
Langit oranye keemasan mengiringi perjalanan kami kembali ke kota Yogyakarta. Sang surya sudah siap akan kembali ke tempat persembunyiannya. Akan bergantai tempat dan tugas dengan sang bulan dan bintang yang dengan cahayanya yang gemerlap berserakan diatas sana bersiap menyinari kota Istimewa ini. Sebelum kami diantar ke penginapan, kami sempatkan untuk mencicipi kuliner khas Jogja yakni Gudeg. Dari ipengalaman sebelumnya kembali menjatuhkan pilihan untuk makan di Gudeg Yu Djum. Satu paket nasi, gudeg, dan tahu ditambah satu gelas khas yang berisi teh tawar hangat siap tersaji untuk disantap membayar rasa lapar yang sudah tertahan selama perjalanan. Alhamdulilah…kami merasa cocok dengan rasa yang ditawarkan oleh tempat ini. Indonesia memang kaya akan cita rasa tidak aneh pada jaman dahulu kita dijajah karena kita punya daya tarik kaya akan rempah-rempah lokal. Setelah urusan perut terselesaikan, kami sedikit ingin menikmati udara malam di kota ini. Kami menyempatkan sebentar bergabung dengan para muda-mudi kota Jogja di alun-alun. Aneka mobil hias dengan lampu-lampu warna-warni yang menyala menjadi daya tarik tersendiri bagi turis mancanegara maupun domestik seperti kami.

21.00 WIB Istirahat di penginapan
Kasur dengan nuansa sprei warna pink dan pendingin ruangan yang bisa distel sesuai keinginan menjadi surge kecil kami malam ini untuk mengistirahatkan sekedar meluruskan pinggang dan kaki. Yang sudah lelah dan bekerja keras hari ini, berlari diatas pasir dan berjalan menaiki tebing terjal. Kami berusaha semaksimal mungkin menikmati istirahat ini dikarenakan dikeesokan harinya tepat pukul 02.00 dini hari kami harus segera bangun. 

Dengan harga terjangkau tapi fasilitas gak kalah sama hotel bintang lima lohhh ....

17 Agustus 2014 – 02.00 WIB
Terbangun oleh bunyi alarm yang sudah kami setel sebelumnya. Tersontak kaget ketika membuka mata berasa baru saja memejamkan mata. Ini sudah dipaksa harus bangun bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Ini adalah pertama kalinya tubuh kami terguyur air, dikarenakan kemarin begitu tiba di stasiun kami berharap bisa menumpang mandi. Ternyata di toilet yang tersedia disana tidak diperkenankan untuk melakukan aktifitas mandi. Jadi apa boleh buat kami hanya melakukan bersih-bersih sedikit di lap ala pramuka dan mengganti pakaian.

17 Agustus 2014 – 03.00 WIB
Bunyi klakson di pelataran parkir penginapan kami menandakan Pak Teguh dengan kendaraan silvernya sudah bersiap membawa kami menuju destinasi di hari kedua kami. Pukul 03.00 tepat dini hari mobil silver ini melaju mulus dan kencang berjalan menjauh kearah utara menuju Kota Magelang. Jalanan yang sangat lengang semakin mempermudah kami ke tempat tujuan. Sekitar satu jam kami sudah bisa sampai di kota yang sempat tersohor terdapat candi yang masuk dalam 7 keajaiban dunia. Jalan ke destinasi kami hari ini tidak terlalu jauh dari kawasan candi Borobudur. Belum ada petunjuk yang berarti untuk ke tujuan kami ini. Hanya plang yang sederhanadan agak cenderung tersembunyi di sekitar pemukiman warga sekitar. Jadi kita harus jeli-jeli menengok kiri dan kanan agak tidak tersesat. Penerangan lampu jalan pun minim, kami mengandalkan lampu jauh pada kendaraan yang membawa kami. Langit yang masih gelap, sepi menambah atmosfer jalanan perkampungan ini seperti memasuki dunia lain yang sepi. Mungkin penduduk disini maish terlelap dalam tidur pulasnya. Sekitar pukul 04.30 kami membayar tiket lalu berjalan berempat naik menembus dinginnya hawa udara rerimbunan pohon hutan pagi kala itu. Penerangan minim lampu petromax yang tersedia setiap beberapa meter menjadi andalan kami agar kami tidak salah melangkahkan kaki. Tidak harus memakan waktu cukup lama untuk bisa sampai ke puncak. Langit yang masih gelap bertabur bintang, bersiap berganti dengan oranye keemasan, disertai hamparan kapas lembut di depan mata siap menyambut kami-kami disini para pemburu sunrise. Ya Punthuk Setumbu adalah bukit diatas ketingggian 400 dpl. Bukit ini adalh spot terbaik untuk melihat landscape kota Magelang yakni dengan khas nya kompleks Candi Borobudur, lalu ada dua gunung yang tersaji dari kejauhan yakni Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Turis mancanegara disini sangat mendominasi diantara pengunjung domestik lainnya. Mereka bersiap dengan kaki-kaki kamera yang tertancap menjulang dengan lensa kamera yang siap merekam detik-detik momen sang surya keluar dari tempat persembunyiannya. Mulut yang tak henti berucap syukur saat melihat matahari menampakkan diri. Ia keluar diapit oleh dua gunung yakni gunung merbabu dan gunung merapi. Kami pun menyempatkan diri untuk mengabadikan momen matahari ini sebagai wujud syukur kita kepada Tuhan Yang Esa yang begitu baik dan sempurnanya menciptakan sebuah karya untuk bumi kami Indonesia. Indonesia yang sedang merayakan ulang tahunnya. 17 Agustus 2014. Saat matahari terbit di 17 Agustus ini kami pun tak lupa berdoa untuk bangsa ini dan Negara ini kedepannya agar perbedaan bukanlah menjadi hal yang menjadi pemecah belah keutuhan Negara ini. Hangatnya sinar matahari pagi yang menyapu kedua pipi kami seolah menawarkan daya tarik tersendiri yang enggan untuk ditinggalkan. 
Good times. Good friends.


Sunkissed..


Mungkin inilah sosok Nyonya Menir masa kini...

Bersama para pemburu sunrise....
17 Agustus 2014 – 09.00 WIB
Sebelum kami kembali ke Kota Jogjakarta nanti, kami sempatkan diri untuk berkunjung ke kawasan wisata Candi Borobudur yang tersohor itu. Sebagian dari sudah pernah berkunjung kesini saat masa kecil. Walaupun kami sudah pernah berkunjung ke tempat ini. Tapi kami yakin kami akan mendapatkan kesan yang berbeda disaat sudah dewasa seperti sekarang dan tentunya bersama teman-teman juga. Suasana kali itu masih sepi,belum terlalu banyak pengunjung. Kami merasa sangat beruntung sekali bisa menikmati semuanya dengan leluasa tanpa harus berdesak-desakkkan dan antrean yang panjang.

Ini adalah puncak nirwana

Kami bersyukur ini adalah spot paling menarik ...

Hormat kepada Bumi Indonesia 17 Agustus 2014...!!!
17 Agustus 2014 -  13.00 WIB
Kami tiba di stasiun Lempuyangan menunggu KA Pasundan dari Surabaya yang akan membawa kami pulang kerumah kami masing-masing di kota Bandung. Selama di kerata perjalanan ke stasiun Kiaracondong kami sempat berbincang dan dengan rombongan satu bangku kami yang sepulang dari puncak mahameru dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan RI.  Kami saling bertukar cerita dan pengalaman. Teman baru pun semakin bertambah. Kami akan tiba pukul 23.00 di stasiun Kiaracondong. Kami menyempatkan waktu secara maksimal untuk tertidur lelap. Saat kereta ini berhenti kami bersiap turun. Dekapan erat, tangan yang saling menggamit menjadi perpisahan kami untuk sementara kami kembali ke kehidupan kami yang sebenarnya. Berbagai kesan, kenangan, sejarah, cerita yang sudh terukir selama dua hari ini tak akan kami lupakan. Diberikan kesempatan untuk bisa berkeliling mengenal alam, bersatu dengan keorisinilan daerah, dan kami semakin mencitai kearifan budaya lokal disana. Kami bangga atas Indonesia ini. Bumi kami….rumah kami semua….
Berikut adalah detail budget yang kami keluarkan per-orang :
1.       Tiket KA PP Stasiun Kiaracondong-Lempunyangan Rp. 105.000/orang
2.       Patungan sewa mobil+driver 2 hari Rp. 150.000/orang
3.       Patungan bensin 2 hari Rp. 50.000/orang
4.       Biaya Tiket Masuk area objek wisata gunung kidul Rp. 9.500/orang
5.       Patungan biaya parkir mobil di 3 pantai Rp. 3.750/orang
6.       Penginapan AC Rp. 60.000/orang
7.       Biaya masuk Punthuk Setumbu Rp. 15.000/orang
8.       Biaya masuk Candi Borobudur Rp. 30.000/orang
9.       Parkir Mobil di Candi Borobudur dan Punthuk Setumbu Rp. 2.500/orang
Total Rp. 425.750/orang










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencicipi pesona Bumi Nusantara [Edisi Bromo dan Waterfall Madakaripura 2]

Ketika sebagian besar orang bilang bahwa saat matahari terbit adalah waktu yang pas untuk memulai perjalanan. Ya..kami sependapat dengan ini. Masing-masing dari kami ketika akan mulai merencanakan, ketika kami akan bersiap tidur di malam hari, ketika kami bergegas bangun dari tempat tidur, dan ketika kami berpamitan melangkahkan kaki untuk sejenak pergi meninggalkan semua kebiasaan yang biasa kami lakukan. Semangat langkah kaki dan dada ini tidak biasa, kami meyakini akan ada sesuatu yang besar yang akan kita raih...ya kami punya mimpi. Dan mimpi ini yang akan kita wujudkan.  5 sabahat tersenyum siap menjemput mimpi Terminal, stasiun, bandara, adalah sebagian tempat yang serupa untuk singgah, mengukir cerita dan dimana ada yang datang dan ada yang pergi. Stasiun di kota Bandung ini adalah saksi langkah awal perjalanan kami. Kami membuat janji untuk bertemu disini dan mengawali mimpi kami. Satu per satu dari kami pun tiba dengan langkah yang walaupun sedikit gontai karena p...

Berburu senja di Negeri Laskar Pelangi

Tepat satu minggu kemarin dapat landscape ini. Gambar ini menjadi moment berharga saya bersama kedua teman saya kala itu. Cuaca yang sulit ditebak, sedari pagi hingga siang hujan menghiasi kota Belitung. Hujan deras sempurna melumpuhkan sejenak rencana kami menuju destinasi yang sudah kami rancang di hari kedua. Harapan kami untuk bisa menikmati sunrise di kota Laskar Pelangi harus tertunda. Rona langit kala itu sedikit mengacaukan semangat kami. Baru di siang hari matahari mulai menampakkan teriknya. Langit biru, awan putih, kami bersorak kecil, senyum kecil tersungging dari bibir kami. Harapan dan semangat kami melanjutkan destinasi yang sempat tertunda tadi mulai tumbuh. Kami banyak menghabiskan waktu siang kami bermain di Pantai Tanjung Lesung. Kami urungkan niat kami untuk menyebrang ke Pulau Lengkuas dikarenakan personil kami hanya tiga orang dan juga waktu yang tidak memungkinkan.  Setelah kami puas bermain-main dibawah terik matahari di Pantai Tanjung Lesung kami bergegas...

Soreku semanis es krim

Soreku semanis kamu es krim..iya kamuuu Bosan saat weekend tiba diam di rumah. Namun, ketika akan bepergian pun serada enggan pula dikarenakan jalanan yang macet. Berangkat dari kebiasaan saat weekend anteng dengan tontonan drama romantis korea. Serasa terinspirasi saat bosan dan jenuh melanda.   Yups...tidak ada salahnya kita mencoba mengadopsi kebiasaan dalam drama korea tersebut. Konon katanya "ada saatnya sesuatu yang manis itu dibutuhkan" untuk menambah suasana menjadi manis dan tambah menyenangkan. Nah, menurut berbagai penelitian dan hasil penelurusan singkat rasa penasaran saya di dunia maya. Bahwa diantaranya coklat dan es krim mampu memberi ketenangan dan rasa rileks. Ada kandungan theobromine yang bersifat vasolidator , yakni menyebabkan pelebaran pembuluh darah. Imbasnya, otot yang tegang menjadi rileks, dan jantung yang semula "lesu" pun menjadi giat dan aktif kembali. Kondisi ini membuat suasana hati menjadi riang. ...