Kamis 02 April, pagi datang lebih manis dan anggun semanis hari ini karena hari ini adalah hari Kamis yang tidak biasa bagi kami. Kala itu matahari cukup bersinar terang. Pukul 08.20 bunyi peluit nyaring terdengar pertanda rangkaian gerbong Argo Wilis bergerak melaju menuju kota tujuan kami. Perjalanan kali ini saya ditemani teman saya bernama Rizkha. Bisa dibilang ini adalah perjalanan yang spontan. Duduk, bincang-bincang ringan, sambil sesekali menikmati pemandangan yang terhampar dari balik jendela beginilah cara kami menikmati perjalanan panjang selama 12 jam nanti.
Juma’t 03 April, Stasiun Gubeng-Surabaya pukul 06.00 kami berkumpul untuk melakukan meeting point. Saya dan Rizkha saling berkenalan dan saling menyapa dengan teman-teman baru kami yang sudah berkumpul tak lupa tentunya yang diarahkan oleh guide kami yang kece yaitu Mas Fafa. Setelah 10 peserta terkumpul mobil yang kami tumpangi melaju menuju Bandara Juanda, yakni melakukan penjemputan peserta. Tambahan peserta yakni 4 orang, mereka berasal dari Jakarta. Kini setelah lengkap jumlah total peserta ini yakni 14 orang. Mobil elf orange kami yang gagah bergerak melaju akan menempuh perjalanan panjang ke Banyuwangi. Saat perjalanan menuju Banyuwangi banyak disuguhi landscape yang baru buat saya pribadi, yang tentunya sangat menarik. Di beberapa lokasi entah kota mana yang saya lewati saat itu berada, di kiri jalan kami disuguhi pemandangan laut yang terkadang dibeberapa lokasi dekat dengan bibir jalan raya. Selain laut, tentunya juga kami melintasi kawasan hutan, pegunungan, dengan medan jalan yang berkelok-kelok dan juga rasanya ini jalan lurus terus tanpa ada ujungnya.
Ditengah perjalanan kesabaran kami untuk segera tiba ditempat tujuan diuji dengan ada trouble pada kendaraan yang kami tumpangi. Entah persisnya apa. Kita harus menunggu mobil pengganti tiba atau mobil ini bagaimana caranya agar kami bisa melanjutkan perjalanan kami. Hal ini membuat kami harus sedikit menunggu dan bersabar. Untungnya tak jauh dari tempat kejadian ini ada mesjid yang bisa dijadikan tempat untuk sedikit beristirahat. Kami bisa shalat, sedikit selonjor dan saling mengakrabkan diri dengan teman-teman kami yang baru sekedar berbincang ringan. Matahari yang memayungi kami kala itu sudah pergi berganti tugas dengan sang bulan. Kira-kira usai kami menunaikan ibadah shalat Isya pukul 19.30 mobil pengganti kami tiba, kami pun segera bergegas mengambil posisi duduk manis menikmati mungkin setengah perjalanan lagi kami akan tiba di kota yang kami tuju. Kira-kira pukul 22.30 kala itu kami tiba di Hotel tempat kami menginap. Entah apa yang ada disekeliling kami saat kami tiba, karena saat itu sudah gelap dan sepi. Masing-masing dari kami bergegas menuju kamar masing-masing. Kami makan malam, bersih-bersih dan sedikit memanjakan punggung ini yang nyaris seharian tidak bisa terlentang secara sempurna. Kami tidak bisa istirahat berlama-lama dikarenakan akan ada morning call pukul 00.00. Sisa jatah waktu yang tak 2 jam yang kami punya sangat kami maksimalkan.
Sabtu 04 April, angin malam bertiup kencang dan masih sepi. Pukul 00.00 kami bersiap sudah dengan perlengkapan tempur kami yang sangat maksimal yakni jacket tebal, sarung tangan, syal, masker, senter. Kami berkumpul di parkiran untuk melakukan destinasi kami yang pertama. Saya yakin masing-masing dari kami menyimpan ekspektasi, mimpi dan harapan masing-masing untuk awal destinasi kami kali ini. Suhu udara semakin dingin pertanda kami sudah memasuki area kawasan Kawah Gunung Ijen. Malam masih mencekam dengan menyimpan segala misteri alamnya kala itu.
![]() |
| Bersiap naik..dingiinnnnn |
Kami tiba, kami sedikit menunggu di pos untuk mengurus perizinan. Urusan perizinan selesai kami membuat formasi melingkar tak lupa sejenak untuk berdoa agar perjalanan kami malam itu lancar dan untuk tetap tidak jauh dari rombongan. Usai berdoa kami bergegas melangkah pasti. Hentakan irama sepatu dan canda tawa kami sesekali dari kami-kami seolah mengalahkan bunyi binatang-binatang malam kecil penghuni kawasan hutan ini. Cuaca dingin, kondisi medan yang menanjak, berpasir, serta berkelok tidak menggoyahkan niat kami sedikitpun untuk bisa sampai ke puncak melihat kawah dan blue fire. Dari pos tadi berjalan kaki dengan jarak sekitar 3 km. Lintasan awal sejauh 1,5 km cukup berat karena menanjak. Sebagian besar jalur dengan kemiringan 25-35 derajat. Selain menanjak struktur tanahnya juga berpasir sehingga menambah semakin berat langkah kaki karena harus menahan berat badan agar tidak merosot ke belakang. Beberapa dari kami saling membantu, berpengangan dan memberikan semangat untuk terus maju. Setelah melewati medan yang berat dan menanjak, tiba di pos yang agak landai yaitu Pos Bunder, pos ini sangat penuh dan padat. Mereka sekedar melepas lelah, tarik nafas sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Perjalanan belum berakhir untuk menuju ke kawah harus melintasi medan berbatu-batu sejauh 250 meter dengan kondisi yang terjal.
Tiba di puncak saat itu pemandangan sekeliling masih gelap, kami hanya mengandalkan sorot cahaya dari senter yang kami bawa dan arus orang-orang yang ada di depan kami. Orang-orang sudah ada yang membentuk formasi sekedar duduk melepas lelah sambil menunggu malam dan kabut yang menyelimuti pesona kawah Ijen. Tak sedikit juga banyak yang melanjutkan perjalanan ke kawah yakni si fenomena blue fire yang hanya bisa kita temukan di dua tempat saja di muka bumi ini yakni satu tempat ada di negeri jauh disana yakni di New Zealand dan satu lagi negeri tercinta kita Banyuwangi, Indonesia. Ancaman bau belerang yang tajam dan asap belerang yang pekat menjadi ancaman yang serius jika tidak dilengkapi dengan masker.
Saat sudah pagi kami takjub dengan lukisan Tuhan yang begitu sempurna. Pemandangan yang luar biasa terhampar di hadapan kami. Di kawasan Ijen ini juga identik dengan penambang belerang yang begitu hebat. Penambangan ini masih dilakukan secara tradisional. Mereka harus mengambil dan mengangkut batuan belerang dari kawah ke tempat penampungan dengan cara dipikul dipundak. Medan yang terjal berbatu dengan kemiringan sekitr 60 derajat harus ia lalui. Rata-rata berat yang dipikul sekitar 70-80 kilogram. Profesi ini harus ia lakoni. Harga sekilo yang hanya dihargai Rp. 800,- membuat saya semakin miris. Tidak sebanding dengan resiko yang selalu mengintai dibelakangnya. Sabar ya pak...semangat!
![]() |
| Yeah 3.386 m dpl |
Masih dihari yang sama usai puas di Kawah Ijen kami harus kembali ke hotel tempat kami menginap yaitu di daerah Ketapang, Banyuwangi untuk melakukan bersih-bersih, packing dan cek out. Karena kami akan melanjutkan destinasi selanjutnya ke Kabupaten Situbundo menuju Pantai Bama dan Taman Nasional Baluran. Saat masuk kawasan Taman Nasional Baluran disuguhi pemandangan yang tidak biasa. Yakni padang rumput yang luas, seolah tanpa batas. Sesekali jika kita beruntung juga akan melihat sekumpulan banteng dan sapi. Yang paling khas dari wilayah ini adalah memang hamparan savana yang luasnya menutupi kurang lebih 40% wilayah Baluran. Setelah menempuh perjalanan sekitar 12 km dari pintu masuk Taman Nasional Baluran dengan medan jalan berbatu, kita akan menemukan hamparan pasir putih yang diselimuti irama ombak yang cukup tenang. Sebelumnya untuk bisa ke bibir pantai kita sedikit waspada karena kita akan bertemu dengan sang monyet-monyet kecil yang agak nakal dan jail apalagi jika ada dari kita yang membawa bungkusan makanan, siap-siap dirampas begitu saja tanpa permisi. Selain Pantai Bama di kawasan Taman Nasional Baluran ini juga terdapat kawasan hutan Mangrove terbesar di Asia. Kami menutup cerita hari ini dengan menikmati pesona Pantai Bama, Hutan Mangrove dan puas menikmati sorot matahari sekaligus angin di savanna bekol.
Langit dipenuhi awan yang mulai buram, cahaya matahari mulai sedikit bergerak ke barat. Matahari siap pergi berganti tugas dengan bulan. Waktu terus berputar meninggalkan siang yang tadi sangat menyengat kening kami menuju matahari sore yang mulai menghangat. Kami pun segera kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kami akan melanjutkan perjalanan untuk ke homestay. Perjalanan ke tempat kita menginap di malam kedua sangat panjang dan penuh liku karena letaknya di pedalaman. Jalan berbatu, menembus malam melintasi areal hutan, perkebunan tebu dan kopi harus kita lalui. Resiko ketika masuk sini mungkin buat kita yang sudah terbiasa dengan gudget, disini tidak akan ada sinyal. Tapi perjalanan ini hampir tidak terasa karena kami mencuri kesempatan saat perjalanan untuk tidur. Entah persisnya pukul berapa, kira-kira mungkin diatas pukul 23.00 kami akhirnya tiba di sebuah rumah di desa yang malam itu sangat gelap dan sepi. Rombongan kedatangan kami disambut oleh seorang Bapak bersama istrinya. Yang sepertinya seolah sudah lelah menunggu kedatangan kami. Namun, wajah lelah, ngantuk kami kembali sigap lagi karena kami harus melakukan aktifitas makan malam yang sudah disiapkan. Pemilik homestay yang kami tempati ialah Pak Pur. Ia cukup akrab bagi pengunjung atau pendatang yang ingin bertanya dan mengexplore kawasan Rajegwesi dan Sukamade ini. Dari beberapa ceritanya, beliau cukup tenar di kalangan acara-acara trip adventure syuting program televisi. Usai makan malam ditemani temaram bulan dan sorot kerlip bintang diatas sana kami bergegas ke rumah untuk melanjutkan istirahat tidur.
![]() |
| Thanks u so much for the hospitality |
![]() |
| Mereka mengajarkan arti hidup |
![]() |
| Jalan berbatu |
![]() |
| dari atas balkon hotel |
![]() |
| Wajah-wajah happy setelah pagi datang |
![]() |
| Wefie |
![]() |
| Sebelum pulang,,,wefie dlu di depan teras rumah Pak Pur |
Minggu 05 April, langit dini hari sudah habis bersiap berganti subuh, kemudian pagi. Pukul 07.00 usai mandi dan sarapan bersama kami sudah bersiap dengan kostum pantai seadanya. Kami berjalan menuju pantai. Destinasi kami pagi ini pertama yakni si Teluk yang cantik yang bersembunyi dengan damai dan cantik dibalik buktit batu karang yang menjulang tinggi. Untuk menuju ke Green Bay ini bisa ditempuh dengan dua cara yakni trekking menembus hutan atau naik kapal nelayan yaang siap disediakan. Dikarenakan waktu kami yang cukup terbatas kami memutuskan untuk menumpang kapal nelayan di Pantai Rajegwesi. Jujur saya pribadi takut sekali naik kapal, namun rasa takut kalah seolah kalah dengan pemandangan yang saya temui. Sekitar 15 menit yang menegangkan buat saya pribadi tibalah di sebuah pulau tak berpenghuni yang cukup sepi namun menyimpan pesona yang seolah menggoda untuk kita sentuh. Kami bergegas turun, pasir putih yang seputih bubuk susu bayi ini punya daya tarik sendiri dipadu dengan air yang nampak hijau disapu dengan ombak yang sesekali cukup besar menyapu kami-kami yang bermain di bibir pantai.
![]() |
| Indahh...kan ? |
Di sini kami puas bermain air, berkejaran dengan ombak, dan berfoto-foto. Sayang kalau sudah di Green Bay ini tidak menyapa pulau yang persis tepat dibelakangnya yakni Pulau Batu. Untuk menuju kesini cukup berjalan kaki saja. Seperti namanya pantai ini banyak dipenuhi batu-batu karang yang besar. Ombak dipantai ini relatif lebih besar dibandingkan dengan Green Bay. Terbukti ada salah satu teman kami Mba Laila, padahal ia hanya duduk santai di ujung batu karang, ketika ombak datang menghampiri, ia sempat terhempas begitu saja. He..he.. Satu yang patut kita syukuri ialah kita bisa menikmati semua pesona pantai batu dan si Green Bay ini puas serasa pulau milik pribadi. Letaknya yang tersembunyi dan medan untuk kesini nya agak sulit membuat pengunjung di pulau ini bisa dihitung dengan jari.
Waktu terus begerak maju tanpa bisa dipause, jika diberikan kesempatan membuat permintaan mungkin kami akan meminta sejenak dunia ini dipause, hanya kami yang bisa bergerak menikmati semuanya. Matahari semakin terik mengalirnya rasa panasnya, meraung semakin meraung ganas menggigit kulit kami. Tawa canda dan kebersamaan kami di sini harus diakhiri karena kami harus kembali ke Pantai Rajegwesi. Buat saya pribadi, perasaan deg-deg an kembali muncul karena harus naik kapal, menyebrangi lautan luas, dan sesekali kapal kami harus dihantam ombak. Angin laut bertiup kencang, matahari berasa tepat diatas ubun-ubun, langit biru dan awan putih menjadi atap kami kala itu.
Tibadi rumah Pak Pur, kami sediit beristirahat sambil menunggu giliran bersih-bersih dan mandi. Setelah semuanya selesai mandi dan rapih. Kami berkumpul menuju di pekarangan rumah disebelah rumah Pak Pur. Suasana desa yang asri dikelilingi pepohonan dipadu dengan angin mengibas dedaunan pohon seolah memberikan irama tersendiri mengiringi kami bersantap siang. Usai santap siang selesai kami bersiap packing dan berpamitan kepada Pak Pur dan keluarga yang sudah memberikan service yang luar biasa. Kami serasa di kampung kami sendiri. Berat rasanya kami meninggalkan desa yang asri dan damai ini.
Elf orange bergerak maju keluar dari desa melintasi Taman Nasional Meru Betiri. Tidak seperti jarak destinasi-destinasi kami sebelumnya, jarak yang harus ditempuh kira-kira 2 jam saja tidak terlalu jauh. Kami tiba di rangkaian destinasi terakhir yakni Red Island Beach. Matahari bersinar terik, membiaskan warna biru cerah di langit menyambut kedatangan kami. Tidak seperti pantai-pantai yang kami kunjungi sebelumnya, pantai disini sudah relatif ramai dengan adanya pedagang, kursi santai dilengkapi dengan payung besar berawarna-warni yang cantik. Seperti namanya pantai pulau merah, dahulu kala d pantai ini ada sebuah bukit hijau kecil bertanah merah yang terletak di dekat bibir pantai. Namun, kini bukit bertanah merah itu sudah terlihat merahnya dikarenakan ditutup tumbuhan lebat. Jika air sedang surut sebenarnya kita bisa ke bukit merah tersebut. Bicara ombak, ombak di kawasan Pulau Merah cukup menantang dan menjadi salah satu tempat ideal untuk penggemar olahraga selancar. Ombak di pantai ini tergolong cukup tinggi berkisar 3-5 meter dan cocok untuk pecinta olahraga selancar (surfing) mas-mas bule.
![]() |
| Pantai di Pulau Batu |
Selesai sudah rangkaian itinerary kita selama 3 hari ini. Kami bersiap kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya. Perjalanan malam yang panjang kita habiskan dengan sekedar mengurai canda tawa apa saja yang bisa kami ungkapkan secara sembarang sampai sebagian dari kami terlelap tidur. Di mobil kami sempat membuat video, mengenai kesan dan pesan tentang perjalanan bersama tiga hari ini. Sekitar pukul 00.00 kami tiba di Stasiun Gubeng Surabaya. Pukul 00.00 Stasiun Gubeng adalah yang akhirnya menjadi saksi perpisahan dari kami. Dengan kondisi yang jetlag karena perjalanan yang jauh. Kami berpamitan dan saling memberikan semangat untuk saatnya pulang dan kembali ke kehidupan nyata yang sebenarnya. Perpisahan bukanlah hal yang menyenangkan, tapi mau tak mau, suka tidak suka kita pan kita yang sebenarnya. Seperti kata pepatah ada pertemuan, ada perpisahan. Sebagian dari kami ada yang menginap di stasiun, bandara, hotel. Sedangkan kami sudah dijemput oleh salah satu family teman saya Rizkha. Hari berlalu seperti berkejaran, terasa begitu cepat berganti saat kita berada dalam suka ria bersama-sama.
Terimakasih Tuhan, Terimakasih Indonesia. Kamu begitu indah. Ijinkan kami kembali menikmati lukisanMu.
Special thanks to my new friends, new family : Mas Fafa, Rizkha, Mba Laila, Ayu, Ifa, Beda, Mas Raden, Mas Rangga, Ardy, Wisnu.
![]() |
| Pantai Bama |
![]() |
| Diujung dermaga |
![]() |
| Tell me what u see ? |
![]() |
| Red island |
![]() |
| Add caption |
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Ijen
http://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Pulau_Merah
http://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Pulau_Merah



















Komentar
Posting Komentar