Hei..long time no see nich.
Pertama-tama apakah kalian pernah merencanakan liburan atau trip yaa…kemanapun
itu. Yang biasanya sih sudah jauh-jauh hari dirancang, bahkan mungkin
berbulan-bulan, bertahun-tahun. Mungkin beberapa ada yang berjalan mulus sesuai
rencana, namun pahit jika trip yang sudah kita rencanakan jauh-jauh hari harus
batal atau cancel karena beberapa hal
yang tidak memungkinkan. Nah, disini sekarang saya akan bercerita menuliskan
pengalaman perjalanan tempo hari lalu.
Ibarat kata pepatah “pucuk
dicinta ulam pun tiba”. Cerita ini berawal dari saya sendiri yang berhasrat
ingin naik kereta api. Entah terhipnotis apa saya kala itu, tiba-tiba muncul
begitu saja. Bepergian sesaat, duduk santai, mendengarkan musik favorit di earphone, melanjutkan bacaan novel yang
tertunda sambil sesekali menikmati pemandangan gemerlap cahaya lampu dari balik jendela kaca
saat perjalanan malam.
Keinginan dan khayalan-khayalan
suasana tersebut, langsung saya utarakan kepada teman saya. Nah, bak gayung
bersambut teman saya pun tertarik dengan usul saya. Namun, kami masih berpikir
mencari tujuan akan kemanakah kita dengan si thomas itu, apa yang akan kami cari. Berhubung kesibukan kami
sebagai wanita karir masa kini (**hee..masa sich) yang terjerat dengan
rutinitas pekerjaan kantor. Semarang menjadi tujuan kami. Alasan Ibu Kota
Provinsi Jawa Tengah ini menjadi tujuan kami yakni tidak terlalu jauh dari Bandung, bisa
ditempuh dengan perjalanan malam dan yang terpenting adalah tidak mengganggu
waktu professional kami. Dalam arti tidak perlu mengajukan cuti karena saat
senin harus kembali bekerja kembali.
Dikarenakan saya yang menjadi
inisiatornya saya otomatis bertanggung jawab untuk merancang itinerary dan mengurus akomodasi.
Singkat cerita dalam hari itu beberapa jam saja saya sudah mendapatkan tiket
kereta, melakukan transaksi pembayaran untuk bermalam nanti dan moda
transportasi saat bepergian disana.
Seperti kita ketahui jalanan
malam Bandung saat menjelang weekend
biasanya agak padat dibarengi juga dengan aktifitas orang yang pulang dari
kantor. Namun, keberangkatan kereta yang tidak terlalu sore membuat kami tidak
khawatir akan terlambat tiba di stasiun. Si thomas
yang bernama KA Harina menjadi pilihan kami malam itu untuk mengantarkan kami
dan beberapa dari orang-orang ke tempat tujuan masing-masing. Peluit ditiup,
deru khas mesin peninggalan khas Belanda ini semakin keras dan kencang,
bergerak maju perlahan menuju ke arah barat.
Pagi menjelang, matahari bersiap
keluar dari persembunyiannya, saya, Lia, dan Rizkha alhamdulilah tiba di kota
yang terkenal dengan cita rasa yang sudah terkenal diseluruh Nusantara yakni
Lumpia. Suasana sejuk dan dingin yang biasanya kami rasakan di Bandung saat
pagi datang, sepertinya ini tidak kami rasakan kala itu. Hangat dan panas lah
kami rasakan kala itu. Kami memakluminya mungkin tubuh kami juga sedang proses
adaptasi dengan suhu dan cuaca disana. Hm..rasa
atmosfer panas ini terbayar dengan sambutan yang hangat dan ramah dari Pak Pran.
Kedatangan kami sudah ditunggu oleh beliau karena komunikasi yang sudah kita
lakukan sebelumnya.
Yaah,,rejeki anak sholeh mungkin
ya ini namanya, mobil yang membawa kami bergerak maju menuju arah luar pinggir
kota Semarang. Sambil sesekali Pak Pran bercerita tentang bangunan dan sejarah
Kota Semarang. Bercerita apa saja dan siap menjawab pertanyaan polos kami yang
ingin tahu ini itu. Jalanan Kota Semarang kala itu sangat lengang. Kurang lebih
tak sampai 1 jam kami tiba di sebuah pondok mess tempat tinggal Pak Pran
bekerja. Kami dipersilahkan untuk mandi dan beristirahat sejenak. Sekedar meluruskan kaki, punggung karena semalaman
tidur dengan posisi duduk dikereta. Berbagai kenyamanan yang ditawarkan oleh
mess pondokan ini yang bak hotel membuat enggan beranjak keluar dari kamar dan
melanjutkan perjalanan.
Setelah dirasa cukup istirahat
kami bergegas untuk membelah sudut kota Semarang dengan berbagai macam
pesonanya. Kami bergerak ke daerah Jalan W.R.Supratman. Soto Ayam Bang Ari
menjadi pilihan kami untuk mengisi perut kami yang sedari malam belum terisi. Semangkuk
soto dengan berbagai macam pelengkapnya seperti tempe goreng, sate daging, sate
kulit, sate telur puyuh dan perkedel mendarat manis di meja kami siap untuk
disantap. Teman-teman jika berkunjung ke Semarang tempat ini sangat rekomended
untuk dikunjungi. Datanglah pada saat pagi menjelang siang, karena khawatir
disaat sore sudah habis. Rahasia kenikmatan soto ini adalah selain bumbu
rempahnya yang khas Jawa juga kuahnya yang diolah dengan menggunakan tungku
tradisional.
![]() |
| Semangkuk soto dengan pelengkapnya yang menggiurkan. |
Setelah si anakonda puas tidak
meracau lagi. Kami bergegas menuju ke tengah kota Semarang. Ikon bangunan kota
Semarang yang berada ditengah tugu muda yakni adalah Lawang Sewu. Bersyukur
sekali kami saat tiba masih pagi jadi masih relatif tenang dan sepi. Membuat
kami puas menikmati setiap sudutnya. Menatap langit biru, menikmati hembusan
semilir angin, dan duduk dibawah pohon mangga “tali jiwo” yang rimbun dan
teduh. Sejuk, indah, menenangkan. Ini pastinya menjadi awal yang baik. Sesuai namanya Lawang Sewu berarti pintu
seribu, meskipun kenyataannya jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Bangunan
yang masih nampak kokoh walupun diusianya yang sudah tidak muda lagi ini
memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar. Konon Lawang Sewu akan terlihat
cantik saat malam hari. Sorot lampu yang menembak setiap celah dan sudut
bangunan ini menambah dramatis dan cantik bagi siapa saja yang melihatnya.
Selain itu bangunan kuno dan megah berlantai dua ini mempunyai juga pastinya
mempunya pesona magis tersendiri yang sangat berkesan.
![]() |
| duduk dibawah pohon mangga "tali jiwo" |
Puas dengan menelisik setiap
sudut bangunan bersejarah ini. Kami bergegas menuju destinasi kami selanjutnya.
Kami bergerak keluar kota Semarang melewati jalan tol menuju daerah Kopeng.
Kopeng adalah sebuah desa yang berada di lereng Gunung Merbabu. Karena berada
di lereng gunung, sehingga desa Kopeng ini memiliki hawa yang sejuk dan dingin.
Perjalanan menuju ke tempat ini sangat memanjakan mata, jadi sangat disayangkan
jika dilewatkan dengan mata terpejam. Perbukitan gunung yang hijau, sawah yang
berundak, aneka kebun sayuran di kanan dan kiri serta jalanan yang relatif sepi
dan berkelok menjadi bonus tersendiri. Tak berapa lama kami tiba di Taman
Wisata Kopeng. Udara yang sejuk dan dingin menyambut kedatangan kami. Kami
menghabiskan waktu dengan berjalan dan berkeliling disekitar Taman Wisata
Kopeng ini.
![]() |
| Dengan pemandangan gunung merbabu |
Tak terasa waktu yang kami
habiskan untuk sekedar berjalan dan berkeliling di Kopeng ini harus kami sudahi
dikarenakan waktu dan masih ada tujuan yang harus kami sambangi. Siang menuju
sore, kami belum sempat istirahat untuk makan siang. Ada baiknya sebelum kami
melanjutkan lagi ke destinasi selanjutnya sebaiknya kami istirahat dan makan
siang terlebih dahulu. Mobil CRV sewaan kami bergerak menuju ke arh timur
melewati jalur pantura yakni ke arah kota Ungaran. Kami istirahat dan sekaligus
santap siang yang agak terlambat di Cimory Resto. Seperti yang kita ketahui
Cimory ini adalah produk yang mengolah susu dan yoghurt. Dari depan kita akan
melihat bangunan berarsitektur modern disambut oleh sesosok ikon patung sapi
yang mentereng diatas bangunan. Masuk kedalam akan kita jumpai dulu gerai toko outlet yang menjual aneka produk olahan
dari cimory, yakin susu, yoghurt, coklat, cake
dan lainnya. Masuk kedalam dan turun kebawah kita akan menjumpai restonya.
Suasana saat itu cukup ramai. Dikarenakan memang lokasi ini sangat pas menjadi
tempat pemberhentian saat melakukan perjalanan. Selain akan dimanjakan oleh
citarasa makanan juga akan dimanjakan oleh pemandangan alami khas pedesaan
disini. Setelah puas menikmati santap makan siang sambil menikmati pemandangan
yang terhammpar. Saatnya berjalan sebentar karena diareal ini juga terdapat
beberapa kandang sapi. Sapi disini memang sangat khas dengan yang ada di
iklan-iklan televisi maupun kaleng susu yakni sapi dengan totol hitam putih.
Selain sapi juga masih ada aneka hewan lain, seperti kelinci, burung, ayam
kalkun dan kolam ikan. Jangan lupa untuk berfoto dengan sapinya ya…
Waktu menunjukan pukul empat sore
sungguh tak terasa jika kita habiskan dengan bersenang-senang dan liburan
seperti ini. Setelah menunaikan ibadah shalat Ashar kami bergegas menuju daerah
Ambarawa. Danau Rawa Pening menjadi pilihan destinasi kami terakhir, sambil
melepas lelah dan kami berharap bisa menikmati sunset. Dalam perjalanan disore
hari menuju Telaga Rawa Pening ini kita
akan disuguhi pemandangan yang indah. Areal persawahan yang terhampar luas
dengan latar belakang pemandangan gunung Merbabu dan Ungaran. Jadi teringat
kisah klasik saat masa sekolah dulu dimana jika kita disuruh menggambar gunung.
Yang terlukis diatas kertas yakni akan kita lihat dengan dua puncak gunung yang
berapit, lalu dibawahnya akan ada jalan yang membelah areal persawahan yang
hijau. Hal klasik ini sempat menjadi obrolan ringan kami di perjalanan.
Ternyata khayalan kita saat masih kecil dulu memang nyata. Tiba di Rawa Pening
kita sedikit agak menunggu agar momentnya pas saat sunset. Kami menghabiskan
waktu dengan menyewa kapal nelayan yang akan membawa kita berkeliling telaga
selama kurang lebih 1 jam. Kapal nelayan ini cukup tua, namun untuk tenaganya
tidak usah diragukan. Ia membawa kami berkeliling menikmati pemandangan kampung
nelayan, sesekali juga kita jumpai Bapak nelayan yang sedang beraktifitas
dengan jalanya diatas perahu. Tak terasa kurang lebih satu jam kami berkeliling
puas dan saatnya kembali ke dermaga.
Langit Ambarawa kala itu sudah
semakin gelap. Matahari bersiap pergi pulang ke tempat persembunyian
sementaranya. Ia berganti tugas dengan bulan. Tidak banyak yang bisa kami lihat
saat melewati kota Ambarawa. Kondisi malam dan lelah setelah seharian beraktifitas
berpindah kesana dan kesini. Membuat kami hanya menjadi pendengar yang baik
saja saat guide sang sopir kami
bercerita ini dan itu mengenai Ambarawa ataupun apa saja yang ingin ia
ceritakan.
Tiba di Kota Semarang kami
menyambangi titik-titik populer yang biasa dijadikan muda-mudinya Semarang
bercengkrama. Namun, setelah melihat ini dan itu, kami memutuskan untuk wisata
kuliner. Setelah badan beraktifitas seharian, rasanya pas jika kita memanjakan
perut dengan cita rasa khas Jawa lagi pastinya. Pilihan kami kala itu ialah
Bakmi Godok. Setelah menjelajah situs google dan membaca referensi ini dan itu,
kami memutuskan untuk mencoba cita rasa bakmi Jawa Pak Gareng. Tempat yang
sempit, kurang nyaman, dan panas mungkin karena sirkulasi udara kurang diperhatikan.
Karena asap dari wajan tempat mengolah bakmi masuk ke area dalam pengunjung.
Tapi anehnya tetap saja pengunjung disini cukup ramai dan padat, dari berbagai
kalangan. Cita rasa khas yang ditawarkan tidak menghalangi niat pengunjung
untuk mencicipi sepiring rasanya. Sepiring bakmi jawa rebus dan segelas es teh
menutup destinasi kami hari ini. Kendaraan kami bergerak menuju tengah kota
Semarang yakni Jalan Kapten Piere Tendean. Kami bermalam di Hotel Ibis Budget
Semarang. Kami menghabiskan malam dan istirahat kami di kamar yang cukup
nyaman.
![]() |
| My breakfast. |
![]() |
| Cukup nyaman bukan..Ibis Budget Semarang |
Pagi menjelang rasanya kami masih
enggan beranjak dari kasur dan selimut. Kami melanjutkan untuk menikmati breakfast. Hari kedua kami di kota
Semarang ini tidak seperti kemarinnya yang kami habiskan di luar kota Semarang.
Hari kedua ini kami akan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Semarang
terkenal dengan spot destinasi yang menyuguhkan bangunan dengan sejarah dan
budaya yang kental. Destinasi kami pertama hari kedua ini kami bergegas menuju
Sam Poo Kong. Kelenteng Sam Poo Kong bukan hanya sekedar Kelenteng sebagai
tempat bersembahyang namun Kelenteng ini juga mempunyai nilai sejarah yang
tinggi. Kelenteng ini adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan
dan pendaratan petama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng
He / Cheng Ho.
Matahari mengalirkan rasa
panasnya meraung ganas menggigit kulit. Hanya sesekali angin mendesah perlahan
menyapu pipi, namun hawa panas masih kami rasakan. Kami pun bergegas ke pintu
keluar untuk melanjutkan destinasi selanjutnya. Kami bergerak kearah
Banyumanik. Spot sejarah dan budaya tujuan kami selanjutnya ialah Pagoda Avalokites
Buddhagaya Watugong. Tempat ini merupakan tempat ibadah untuk umat Budha.
Pagoda ini menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan ketinggian mencapai 45
meter. Pertama kali menaiki tangga kita akan disambut oleh patung Dewi Kwan Im.
Selain itu jika kita berjalan lagi ke gedung yang lain kita akan melihat patung
Bodhisttva Avalokiteswara yang berdiri kokoh menghiasi interior bangunan
pagoda. Ditempat ini kami bertemu dengan Bapak pemandu yang baik hati. Dengan
beliau kami berempat saling bercerita, diskusi dan sharring ringan ini itu. Singkat cerita obrolan berjalan begitu
saja, kami menikmatinya. Tak banyak waktu yang kami miliki untuk berlama-lama
disini. Dikarenakan jarak tempuh untuk kembali ke pusat kota atau akan memakan
waktu cukup lama. Waktu yang singkat ini, memberikan makna yang mendalam bagi
kami setelah berbincang dengan beliau. Beliau mengantar kami, menunggu, menemani
dan memastikan kami tidak salah menaiki
bis. Kami sungguh terenyuh dan terharu dengan situasi ini. Motor dan usia nya
sama-sama sudah tidak muda lagi. Namun, ia tetap gigih bekerja menempuh
perjalanan menggunakan si kuda besi yang bahkan lebih tua dari usianya. Satu
hal yang bisa kami ambil dan belajar dari beliau adalah ia bekerja dengan hati
dan tulus. Pertemuan dengan beliau ini mengingatkan saya dengan kakek saya yang
juga mungkin seusia dengan beliau. Perpisahan bukanlah hal yang menyenangkan. Namun,
rasa sesak dan sedih itu terbayar dengan cerita yang dibungkus dalam kenangan
yang begitu bermakna. Pertemuan yang singkat bukan berarti tidak meninggalkan
sebuah kenangan manis.
Waktu merambat dengan cepat siang
berganti sore. Sungguh tak terasa. Sebelum kami mengakhiri destinasi kami dan
bergegas menuju stasiun Tawang untuk menunggu KA Harina yang akan memebawa kami
pulang ke kota kami. Sangat disayangkan jika kita melewatkan satu lagi pesona
khas Semarang yakni aneka kuliner dan oleh-olehnya. Jalan Pandanaran dikenal
sebagai kawasan yang terdapat berabagai macam toko yang menyediakan berbagai
macam aneka penganan oleh-oleh khas Semarang. Yang khas jangan dilewatkan untuk
buah tangan dan dibawa kerumah ialah ikan Bandeng yang sangat terkenal
kelezatannya.
Dari teriknya siang matahari
sampai senja membentang di langit kota Semarang. Kami harus menyudahi seluruh
cerita di kota ini. Kota yang penuh sejarah, budaya serta alam yang begitu
indah. Dari perjalanan ini kami ingin mengucapkan terimakasih pastinya adalah
Tuhan Yang Maha Esa, atas ijin dan berkahnya nya kami sehat sehingga bisa
mengunjungi sedikit surga kecil di bumi yang engkau ciptakan. Selain itu juga
orang-orang baik dan tulus yang kami temui, security hotel, sopir taksi, guide kami, mas kenek dan sopir bis yang rela mengantar kami ekstra
hingga ke tempat tujuan.
Berjalanlah, pelajaran tidak Cuma
bisa didapat dari satu tempat yang bernama sekolah, sekolah yang sebenarnya
adalah kehidupan itu sendiri. Alam terkembang adalah guru. Berteman dengan
siapapun demi sepotong cerita, membuat kenangan selama perjalanan. Terimaksih travelmate ku kali ini …Rizkha…Lia..





















Komentar
Posting Komentar