Langsung ke konten utama

Postingan

Resensi dan Kutipan Novel Rantau I Muara Karya A.Fuadi

 Novel Rantau 1 Muara merupakan novel ketiga Ahmad Fuadi dari trilogi novel Negeri 5 Menara. Dua novel sebelumnya adalah Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna.  Novel Rantau I Muara ini menceritakan kepercayaan diri Alif sedang menggelegak. Ia mengenyam bukan di bangku sekolah pada umumnya. Ia seorang santri di Pondok Madani di sebuah kota di provinsi Jawa Timur. Hidup merantau jauh dari belaian kasih sayang keluarganya membentuk ia menjadi pribadi yang mandiri dan darah minang nya mengalir kuat lewat semangat pantang menyerah yang ia miliki.  Tempat kos yang sederhana. Bahkan kadang harus sering ditagih oleh ibu kost nya karena belum membayar biaya bulanan nya. Disisi lain ia harus tetap mengirim uang untuk membantu ibu dan kedua adiknya di tanah Minang. Berurusan dengan debt collector pun sudah pernah ia rasakan. Namun, bukan Alif namanya kalau tidak punya jurus pantang menyerah dan yakin akan mimpi-mimpi besarnya. Salah satu mimpi besarnya adalah Amerika. Usai lul...

Harmonisasi yang indah dari segelas Bajigur

Usai maghrib tiba-tiba hujan turun sangat deras tanpa bisa dibendung. Suara gemuruh derasnya air yang menghujam ke bumi semakin nyaring terdengar. Memang sepanjang hari libur ini awan gelap yang menggantung di atas sana cenderung tak mau pergi dari langit kota ini. Hanya sesekali saja matahari menampakan sinarnya. Sisanya adalah awan kelabu. Kondisi cuaca seperti ini membuatku enggan bepergian keluar rumah. Kembali pada hujan deras yang baru saja turun. Ternyata ia hanya menggertak dengan gemuruhnya saja. Tidak lama kemudian, hujan pun berhenti. Namun, cuaca dingin masih menyelimuti malam ini. Dan suara mang bajigur seolah mengajakku untuk menawarkan solusi mencicipi bajigur hangat yang dijajakannya. Hmmm...setelah otak kanan dan otak kiriku melakukan brainstorming akhirnya saya memutuskan untuk membeli segelas saja. Ya mungkin sedikit berlebihan lawong hanya untuk bajigur saja harus brainstorming.  Maklum ini memang diluar kebiasaanku. Karena biasanya lepas malam hari sudah mens...

Terimakasih Kakek ..

Hari ini aku terbangun lebih dini dari biasanya. Walaupun hari ini adalah hari libur. Alhamdulillah aku masih diberikan kesempatan untuk membuka mata dan menghirup pagiMu yang luar biasa. Ini adalah berkat yang engkau berikan. Sejenak hening dalam kesendirianku terlintas beliau yang renta disana sendirian. Begitu banyak pertanyaan sederhana terlintas begitu saja. Ingin segera mendapat jawabannya. Memori ini langsung bekerja melesat dengan cepat berputar ke masa lalu. Menemukan hal-hal kecil sederhana disana. Entahlah begitu banyak yang harus aku ingat. Selama hampir kurang lebih dua belas tahun aku hidup dalam asuhan kakek dan nenek. Tumbuh dan besar dalam bimbinganmu, arahanmu. Pasti tidak mudah untuk mendidikku menjadi anak yang berbakti. Usia-usiaku  dulu sangat susah diatur. Begitu banyak kemauan dan keinginan. Rengekkan demi rengekkan pun harus sabar engkau dengarkan. Tak jarang rengekkan ini harus kau turuti. Tanpa aku harus tahu bagaimana engkau mewujudkannya. ...

Tentang rindu, masa lalu dan dalam asuhanmu.

Malam hari ini langit cukup bersahabat dengan begitu banyak bintang yang berpendar gemerlap memberikan cahayanya untuk menyinari rumah kita yang luas yakni Bumi. Ketika akhirnya kurebahkan badan, bergelung dalam balutan selimut dibawah mangkuk langit berbintang. Aku merasa bagaikan bayi di luar angkasa. Ketika kepala ini mendarat di atas bantal, aku selalu menyukai detik-detik ini sebelum aku terlelap. Karena, dalam keheningan sejenak aku bebas merajut mimpi-mimpi dan khayalanku setinggi langit.  Di keheningan malam aku terjaga. Pepatah mengatakan bahwa masa lalu adalah sejarah, hari ini adalah anugerah, dan hari esok adalah harapan. Kali ini aku sedang merindukan masa lalu. Masa kecilku. Frase-frase aku tumbuh besar menjadi perempuan dewasa seperti sekarang. Sudah berapa hari yang sudah aku lalui, sudah berapa jam aku lewati pula. Dan siapa saja yang sudah menjadikanku ada, mengiringi aku tumbuh kembangku. Kini ia begitu renta dan kuat di waktu yang bersamaan. ...

Ini tentang Bahagiaku ...

Bahagia itu sederhana. Ketika kelopak mata ini terbuka di waktu fajar seiring dengan alunan gema suara adzan berkumandang. Ternyata aku bukan hanya bisa membuka mata, telinga ini juga masih berfungsi dengan baik menangkap bunyi di luar sana. Hidung ini masih bisa menghirup udara yang sejuk di pagi hari sebagai proses respirasi. Aku beranjak untuk mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajibanku. Ini adalah wujud kecil syukurku kepadaMu atas anugerah yang engkau berikan kepadaku. Sejenak kadang aku menyempatkan untuk mengatupkan kelopak mata ini sedikit merasakan dan berdialog secara monolog denganMu. Beribu harap atas doa-doa yang aku panjatkan. Kiranya Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang mengabulkan dan membimbing langkahku untuk selalu berada di jalanMu. Matahari sudah mulai merangkak naik ini pertanda bahwa aku harus segera bergegas melakukan aktifitas selanjutnya. Perjalanan yang harus aku tempuh menuju tempat bekerja bisa dibilang cukup menguras waktu dan sedikit energi. Sed...

Mencicipi pesona Bumi Nusantara [Edisi Bromo dan Waterfall Madakaripura 2]

Ketika sebagian besar orang bilang bahwa saat matahari terbit adalah waktu yang pas untuk memulai perjalanan. Ya..kami sependapat dengan ini. Masing-masing dari kami ketika akan mulai merencanakan, ketika kami akan bersiap tidur di malam hari, ketika kami bergegas bangun dari tempat tidur, dan ketika kami berpamitan melangkahkan kaki untuk sejenak pergi meninggalkan semua kebiasaan yang biasa kami lakukan. Semangat langkah kaki dan dada ini tidak biasa, kami meyakini akan ada sesuatu yang besar yang akan kita raih...ya kami punya mimpi. Dan mimpi ini yang akan kita wujudkan.  5 sabahat tersenyum siap menjemput mimpi Terminal, stasiun, bandara, adalah sebagian tempat yang serupa untuk singgah, mengukir cerita dan dimana ada yang datang dan ada yang pergi. Stasiun di kota Bandung ini adalah saksi langkah awal perjalanan kami. Kami membuat janji untuk bertemu disini dan mengawali mimpi kami. Satu per satu dari kami pun tiba dengan langkah yang walaupun sedikit gontai karena p...

Bahasa Kami

Tak banyak sejarah rangkaian abjad yang telah kami produksi. Tak banyak pula frekuensi waktu yang telah kami habiskan. Kami hanya dua insan mahluk yang sempurna buah ciptaan Yang Maha Sempurna. Namun, kami selalu berusaha memberikan daya, upaya untuk hadir dengan sedikit bahasa yang kami gunakan. Kami akan saling mengunjungi disaat salah satu dari kami membutuhkan, ya hanya untuk sekedar didengar dengan seksama, ditatap dengan baik, dan tak jarang rahang salah satu dari kami pun mengeras hanya untuk memberikan arti dari sebuah penegasan. Kami tak berusaha mewarnainya dengan keabu-abuan. Kami menyukai hitam dan putih. Sedangkan warna lain adalah buah dan bonus dari yang kami torehkan. Kami mempunyai dunia yang berbeda. Namun, ada satu waktu kita sepakat untuk saling berlari dan mencari. Namun, kami minim ekspresi serta gestur. Mungkin sekeliling kami akan berfikir bahwa ada sesuatu yang janggal diantara kami, karena tidak selayaknya dua insan bertemu yang sering diwarnai canda, s...